Penulis: Elisa Putri, Mahasiswi UIN Datokarama Palu
Bayangkan sebuah generasi yang tumbuh dengan satu jentikan jari bisa membeli apa saja, kapan saja. Itulah realitas anak muda hari ini. Kemudahan belanja daring, gempuran diskon yang datang tiada henti, dan dorongan tak kasatmata dari media sosial telah mengubah cara generasi muda memandang barang—bukan lagi sebagai kebutuhan, melainkan sebagai simbol eksistensi. Fenomena ini punya nama: gaya hidup konsumtif, dan ia tumbuh subur justru di tangan generasi yang paling melek teknologi.
Tidak bisa dimungkiri, media sosial adalah aktor utama di balik fenomena ini. Setiap gulir layar menyuguhkan potret kehidupan yang serba sempurna: liburan ke destinasi eksotis, koleksi sepatu edisi terbatas, gadget terbaru yang baru rilis kemarin. Konten-konten ini, baik yang dibuat oleh selebritas, influencer, maupun sekadar teman sebaya, menanamkan satu pesan halus namun kuat—bahwa memiliki barang tertentu sama dengan menjadi relevan.
Akibatnya, muncul tekanan sosial yang tidak terlihat tapi nyata dirasakan: rasa cemas akan tertinggal zaman, atau yang akrab disebut fear of missing out. Banyak anak muda akhirnya membeli bukan karena butuh, melainkan karena takut dianggap kurang gaul. Ironisnya, apa yang ditampilkan di linimasa sering kali hanyalah potongan kecil yang dipoles habis-habisan, jauh dari gambaran utuh kehidupan seseorang. Generasi muda pun terjebak mengejar standar yang sebenarnya tidak pernah benar-benar nyata.
Dampak dari pola pikir semacam ini tidak main-main. Kebiasaan membeli barang yang sebetulnya tidak diperlukan perlahan menggerus kemampuan mengelola keuangan. Tabungan menipis, cicilan menumpuk, bahkan tidak sedikit yang terjerumus ke layanan paylater atau pinjaman daring hanya demi memenuhi gaya hidup yang sebetulnya di luar kemampuan. Lebih jauh lagi, ada pergeseran nilai yang lebih mengkhawatirkan: penampilan dan kepemilikan barang mulai dijadikan tolok ukur harga diri, menggeser pentingnya kompetensi, karakter, dan pencapaian nyata.
Fenomena ini bukan sekadar persoalan individu. Ketika konsumsi berlebihan menjadi norma kolektif di kalangan anak muda, dampaknya merembet ke pola pikir generasi secara luas—generasi yang rentan terjebak utang sejak usia produktif, generasi yang mengukur kebahagiaan dari unggahan, bukan dari kualitas hidup yang sesungguhnya.
Penting untuk digarisbawahi, kritik terhadap gaya hidup konsumtif bukan berarti anak muda dilarang menikmati hasil jerih payahnya sendiri. Membeli barang yang diinginkan, sesekali memanjakan diri, atau mengikuti tren tertentu bukanlah dosa. Yang menjadi persoalan adalah ketika hal itu dilakukan tanpa kendali, tanpa pertimbangan, dan tanpa kesadaran akan konsekuensi jangka panjang.
Kuncinya terletak pada kemampuan membedakan antara kebutuhan dan keinginan, lalu menyusun prioritas yang jelas dalam setiap pengeluaran. Kebiasaan sederhana seperti menabung secara konsisten, membuat anggaran bulanan, serta memberi jeda sebelum memutuskan untuk membeli, dapat menjadi benteng pertahanan dari godaan konsumsi yang berlebihan. Pertanyaan sederhana seperti “Apakah saya benar-benar membutuhkan ini, atau hanya ingin terlihat memilikinya?” bisa menjadi filter awal yang sangat efektif.
Fenomena maraknya layanan beli sekarang bayar nanti menjadi contoh nyata bagaimana kemudahan akses kredit instan turut memperparah pola konsumsi yang tidak sehat di kalangan muda. Tanpa proses verifikasi yang rumit, siapa pun bisa mendapatkan limit belanja dalam hitungan menit, sering kali tanpa benar-benar memahami konsekuensi bunga dan denda keterlambatan yang menyertainya. Banyak yang pada akhirnya terjebak dalam siklus berutang demi mengejar barang yang sebenarnya bisa ditunda atau bahkan tidak dibutuhkan sama sekali. Edukasi mengenai literasi digital dan keuangan semestinya berjalan beriringan dengan kemudahan teknologi itu sendiri, agar kemudahan tidak berubah menjadi jebakan. Peran keluarga, lembaga pendidikan, maupun platform digital itu sendiri menjadi krusial dalam membekali generasi muda dengan pemahaman yang memadai sebelum mereka terjun ke dunia transaksi digital yang serba cepat ini.
Pada akhirnya, kesadaran untuk menjalani hidup secara lebih sederhana dan bijak adalah investasi jangka panjang yang jauh lebih berharga ketimbang mengejar validasi sesaat dari tren yang datang dan pergi. Literasi keuangan sejak dini bukan lagi pilihan, melainkan kebutuhan mendesak bagi generasi yang hidup di tengah arus konsumsi digital tanpa henti.
Generasi muda perlu diingatkan, dan mengingatkan diri sendiri, bahwa nilai seseorang tidak ditentukan oleh merek yang dikenakan atau jumlah barang yang dipajang di media sosial. Kebahagiaan sejati tumbuh dari kemampuan mengelola hidup secara bertanggung jawab—dari kendali atas keuangan, kejernihan dalam mengambil keputusan, dan keberanian untuk tidak selalu mengikuti arus. Sebab pada akhirnya, tren akan terus berganti, tetapi kebiasaan finansial yang sehat akan terus memberi manfaat, jauh melampaui usia mudanya. Pilihan untuk hidup lebih bijak hari ini adalah bekal paling berharga bagi masa depan yang lebih stabil dan bermakna.



