Penulis : Husna / Mahasiswa UIN Datokarama Palu
Fenomena yang ramai saat Ramadan kemarin cukup menarik perhatian. Media sosial seperti TikTok dan Instagram dipenuhi video orang-orang yang sedang membaca Al-Qur’an sejak waktu subuh hingga matahari terbit. Video tersebut biasanya menampilkan suasana yang tenang, dengan perubahan langit dari gelap menuju terang, disertai lantunan ayat suci Al- Qur’an yang menenangkan hati. Ada yang melakukannya di masjid, ada pula yang melakukannya di rumah masing-masing. Meskipun tempatnya berbeda, konsep yang ditampilkan hampir sama, yaitu memperlihatkan momen ibadah yang khusyuk dan penuh ketenangan pada waktu subuh.
Fenomena ini menjadi salah satu tren yang cukup banyak mendapat perhatian masyarakat, khususnya di kalangan anak muda. Tidak sedikit orang yang akhirnya ikut bangun lebih awal untuk melaksanakan salat Subuh, kemudian melanjutkan membaca Al-Qur’an sambil menikmati suasana pagi. Bagi sebagian orang, tren ini memberikan pengalaman baru yang membuat Ramadan terasa lebih bermakna. Bahkan, banyak warganet yang mengaku termotivasi untuk memperbaiki kebiasaan mereka selama bulan suci setelah melihat konten- konten tersebut.
Di sisi positifnya, tren ini dapat menjadi media dakwah yang sederhana tetapi efektif. Di era digital seperti sekarang, media sosial bukan hanya menjadi tempat hiburan, tetapi juga bisa menjadi sarana menyebarkan nilai-nilai kebaikan. Ketika seseorang melihat video orang lain yang sedang mengaji, muncul dorongan dalam dirinya untuk melakukan hal yang sama. Meskipun awalnya hanya karena rasa penasaran atau ingin mencoba, bukan tidak mungkin kebiasaan baik tersebut akan terus berlanjut hingga setelah Ramadan berakhir. Hal ini menunjukkan bahwa media sosial juga memiliki potensi besar untuk menyebarkan semangat beribadah.
Selain itu, keindahan visual yang ditampilkan dalam video-video tersebut juga menjadi daya tarik tersendiri. Cahaya matahari yang perlahan muncul, suasana masjid yang masih sepi, dan lantunan ayat Al-Qur’an menciptakan suasana yang damai. Konten seperti ini menjadi alternatif yang lebih positif dibandingkan berbagai konten hiburan yang sering kali menghabiskan waktu tanpa memberikan manfaat. Jika digunakan dengan tepat, media sosial memang mampu menjadi ruang yang menghadirkan inspirasi dan ketenangan bagi banyak orang.
Namun, di balik sisi positif tersebut, ada hal yang perlu menjadi bahan refleksi bersama. Tidak dapat dipungkiri bahwa budaya viral dan fenomena fear of missing out (FOMO) juga ikut memengaruhi munculnya tren ini. Sebagian orang mungkin mengikuti tren tersebut bukan semata-mata karena ingin mendekatkan diri kepada Allah, tetapi karena tidak ingin tertinggal dari apa yang sedang ramai di media sosial. Akibatnya, ibadah yang seharusnya dilakukan dengan penuh keikhlasan berpotensi berubah menjadi aktivitas yang lebih berorientasi pada konten dan jumlah penonton.
Di sinilah pentingnya menjaga niat. Dalam Islam, setiap amal sangat bergantung pada niat pelakunya. Membagikan aktivitas ibadah bukanlah sesuatu yang salah apabila tujuannya untuk mengajak orang lain berbuat baik atau memberikan motivasi. Akan tetapi, setiap individu tetap perlu melakukan introspeksi agar tidak terjebak pada keinginan memperoleh pujian, pengakuan, atau popularitas. Sebab, nilai ibadah tidak diukur dari banyaknya jumlah tayangan, komentar, maupun tanda suka yang diperoleh di media sosial, melainkan dari keikhlasan hati dalam menjalankannya.
Media sosial pada dasarnya hanyalah sebuah alat. Dampaknya bergantung pada bagaimana penggunanya memanfaatkan platform tersebut. Jika digunakan untuk menyebarkan pesan- pesan positif, mengajak kepada kebaikan, dan memberikan inspirasi, maka media sosial dapat menjadi ladang amal yang bermanfaat. Sebaliknya, apabila digunakan hanya untuk mencari perhatian dan validasi dari orang lain, maka tujuan utama ibadah dapat bergeser. Oleh karena itu, setiap pengguna media sosial perlu memiliki kebijaksanaan dalam menentukan apa yang layak dibagikan dan apa yang sebaiknya menjadi hubungan pribadi antara dirinya dengan Allah Subhanahu Wa Ta’ala.
Pada akhirnya, tren mengaji subuh yang viral selama Ramadan dapat menjadi sesuatu yang baik apabila disikapi dengan bijak. Fenomena ini membuktikan bahwa media sosial tidak selalu identik dengan hal-hal negatif, tetapi juga mampu menjadi sarana menyebarkan semangat beribadah dan mengajak orang lain mencintai Al-Qur’an. Meski demikian, setiap muslim perlu mengingat bahwa esensi ibadah terletak pada keikhlasan dan kedekatan kepada Allah Subhanahu Wa Ta’ala, bukan pada seberapa viral sebuah konten yang dibuat. Semoga tren- tren positif seperti ini tidak hanya hadir saat Ramadan, tetapi juga mampu menjadi kebiasaan baik yang terus dilakukan dalam kehidupan sehari-hari, baik terlihat oleh orang lain maupun ketika tidak ada satu pun yang menyaksikannya.



