Penulis: Haekal Fais / Mahasiswa Komunikasi dan Penyiaran Islam, UIN Datokarama Palu.
Coba perhatikan suasana di sekitar kita. Di ruang tunggu, di kantin kampus, di dalam kendaraan umum, bahkan saat kumpul bersama keluarga, hampir semua orang sibuk menatap layar ponselnya. Ironisnya, kita bisa menghabiskan waktu berjam-jam menikmati kehidupan orang lain di media sosial, tetapi merasa canggung untuk mengobrol dengan orang yang duduk tepat di samping kita. Seolah-olah dunia di balik layar jauh lebih menarik dibanding dunia yang benar-benar ada di depan mata.
Perkembangan teknologi memang membawa banyak kemudahan. Semua informasi bisa diakses dalam hitungan detik, komunikasi menjadi lebih cepat, dan hiburan tersedia tanpa batas. Namun, kemudahan itu juga membuat kita semakin sulit melepaskan diri dari layar. Awalnya hanya ingin membuka media sosial selama beberapa menit, tetapi tanpa sadar waktu terus berjalan. Kebiasaan kecil seperti ini lama-kelamaan menjadi rutinitas yang sulit dihentikan.
Yang lebih mengkhawatirkan, hubungan antarmanusia perlahan mulai berubah. Kita lebih cepat membalas komentar di media sosial daripada membalas sapaan orang di rumah. Saat sedang berkumpul, banyak yang memilih diam karena masing-masing sibuk dengan ponselnya. Padahal, momen kebersamaan yang seharusnya penuh cerita justru berubah menjadi kumpulan orang yang sama-sama hadir, tetapi tidak benar-benar saling terhubung.
Media sosial juga membuat kita tanpa sadar terbiasa membandingkan hidup sendiri dengan kehidupan orang lain. Melihat teman yang terlihat sukses, sering liburan, atau memiliki kehidupan yang tampak sempurna membuat sebagian orang merasa tertinggal. Padahal, apa yang tampil di media sosial hanyalah potongan kecil dari kehidupan seseorang. Tidak semua kesedihan, kegagalan, atau perjuangan mereka ikut dipublikasikan. Sayangnya, banyak orang lupa akan hal itu dan akhirnya merasa hidupnya kurang berarti.
Bukan berarti teknologi atau media sosial adalah sesuatu yang harus dijauhi. Justru di era sekarang, keduanya sudah menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari. Yang menjadi persoalan adalah ketika kita kehilangan kendali. Saat waktu istirahat habis hanya untuk terus menggulir layar, saat perhatian lebih banyak diberikan kepada notifikasi dibanding orang-orang terdekat, atau ketika kebahagiaan mulai diukur dari jumlah like dan komentar, di situlah kita perlu bertanya kembali apakah kita masih mengendalikan teknologi atau justru sedang dikendalikan olehnya.
Kita perlu belajar memberi batas pada diri sendiri. Tidak semua waktu luang harus diisi dengan membuka media sosial. Sesekali mencoba menikmati sore tanpa membawa ponsel, berbincang dengan keluarga tanpa terganggu notifikasi, atau berjalan santai sambil memperhatikan suasana sekitar ternyata bisa memberikan ketenangan yang sering kali tidak kita dapatkan dari dunia digital. Hal-hal sederhana seperti itu mungkin terlihat biasa, tetapi justru menjadi pengalaman yang paling nyata.
Sebagai generasi yang lahir dan tumbuh di era digital, kita tentu tidak bisa lepas dari teknologi. Namun, kita juga tidak boleh kehilangan kemampuan untuk menikmati kehidupan secara langsung. Dunia nyata menawarkan banyak hal yang tidak bisa digantikan oleh layar, seperti tawa yang tulus, pelukan dari orang tersayang, percakapan yang hangat, hingga pengalaman yang membentuk kenangan. Semua itu tidak akan pernah terasa sama jika hanya disaksikan melalui sebuah video.
Layar memang mampu membawa kita melihat berbagai sudut dunia, tetapi jangan sampai membuat kita lupa melihat kehidupan yang sedang berlangsung di sekitar kita. Teknologi seharusnya menjadi alat yang membantu manusia, bukan menjadi alasan untuk menjauh dari sesama. Karena seindah apa pun dunia digital, tetap saja tidak ada yang bisa menggantikan hangatnya hubungan manusia dan indahnya menikmati kehidupan secara nyata.



