Penulis: Moh. Fiqih / Mahasiswa UIN Datokarama Palu
Di era digital seperti sekarang, media sosial sudah menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari, terutama bagi mahasiswa. Hampir setiap hari kita membuka Instagram, TikTok, atau platform lainnya untuk melihat aktivitas teman maupun informasi yang sedang ramai dibicarakan. Dari situ sering muncul perasaan takut ketinggalan sesuatu, baik tren, tempat yang sedang viral, maupun pencapaian orang lain. Perasaan ini dikenal dengan istilah Fear of Missing Out atau FOMO. Menurut saya, FOMO bukan sekadar takut tidak mengikuti tren, tetapi juga rasa khawatir jika hidup kita terlihat kurang menarik dibandingkan orang lain.
Fenomena FOMO cukup sering terlihat di lingkungan kampus. Misalnya, ketika ada tempat nongkrong yang sedang viral, banyak mahasiswa ingin datang hanya untuk membuat konten di media sosial. Ada juga yang membeli pakaian, sepatu, atau gawai terbaru agar tidak dianggap ketinggalan zaman. Bahkan, sebagian mahasiswa mengikuti berbagai kegiatan hanya karena teman-temannya ikut, bukan karena benar-benar tertarik. Padahal, belum tentu semua hal yang sedang tren memang sesuai dengan kebutuhan atau kondisi masing-masing.
Menurut saya, media sosial memiliki pengaruh yang cukup besar terhadap munculnya budaya FOMO. Di media sosial, orang biasanya hanya membagikan sisi terbaik dari kehidupannya, seperti saat liburan, mendapat penghargaan, atau menikmati berbagai pencapaian. Jarang ada yang menunjukkan proses, kegagalan, atau kesulitan yang mereka alami. Akibatnya, orang yang melihat unggahan tersebut sering membandingkan kehidupannya sendiri dan merasa tertinggal. Padahal, apa yang kita lihat di media sosial belum tentu menggambarkan kenyataan secara utuh.
Jika tidak disikapi dengan baik, FOMO bisa memberikan dampak yang kurang baik. Banyak mahasiswa menjadi lebih konsumtif karena ingin mengikuti gaya hidup yang sedang populer. Ada yang rela menghabiskan uang untuk membeli barang yang sebenarnya belum dibutuhkan. Selain itu, terlalu sering membandingkan diri dengan orang lain juga bisa membuat seseorang merasa kurang percaya diri, cemas, bahkan tidak puas dengan apa yang sudah dimiliki. Lama-kelamaan, hal ini dapat memengaruhi kesehatan mental dan membuat seseorang sulit menikmati proses hidupnya sendiri.
Meskipun begitu, saya tidak berpikir bahwa semua tren itu buruk. Mengikuti perkembangan zaman tetap penting agar kita tidak tertinggal informasi dan bisa terus belajar hal-hal baru. Namun, kita juga harus mampu memilih mana tren yang memberikan manfaat dan mana yang hanya bersifat sementara. Misalnya, mengikuti seminar, pelatihan, atau kegiatan yang dapat menambah pengalaman tentu jauh lebih bermanfaat dibandingkan hanya mengejar tren demi mendapat pengakuan dari orang lain.
Menurut saya, cara terbaik untuk mengurangi FOMO adalah dengan lebih mengenal diri sendiri. Kita tidak perlu memaksakan diri untuk selalu sama dengan orang lain karena setiap orang memiliki kemampuan, kondisi, dan tujuan hidup yang berbeda. Mengurangi waktu bermain media sosial, lebih banyak bersyukur, serta fokus pada pengembangan diri bisa menjadi langkah sederhana agar tidak mudah terpengaruh oleh kehidupan yang terlihat sempurna di internet.
Pada akhirnya, budaya FOMO menjadi pengingat bahwa tidak semua hal yang sedang ramai harus kita ikuti. Sebagai mahasiswa, yang lebih penting adalah memanfaatkan masa kuliah untuk belajar, mengembangkan kemampuan, dan membangun masa depan sesuai dengan potensi diri. Tren akan terus berganti, tetapi jati diri dan karakter yang baik akan tetap menjadi bekal yang paling berharga. Karena itu, mengikuti perkembangan zaman boleh saja, asalkan tidak sampai membuat kita kehilangan diri sendiri hanya demi diterima oleh lingkungan.



