29.9 C
New York
Kamis, Juli 2, 2026

Buy now

spot_img

Pemprov Minta Daerah Kawal Kehamilan Berisiko Tinggi Tekan AKI-AKB

AKTIVI.ID-Pemerintah Provinsi Sulawesi Tengah (Sulteng) meminta pemerintah kabupaten dan kota di provinsi itu membangun sistem pengawalan kehamilan berisiko tinggi sejak dini sebagai upaya menekan angka kematian ibu (AKI) dan angka kematian bayi (AKB).

“Kuncinya adalah pengawalan sejak awal kehamilan. Jika ditemukan kehamilan berisiko, keluarga harus segera diberikan pemahaman bahwa persalinan harus dilakukan di rumah sakit,” kata Wakil Gubernur Sulawesi Tengah Reny A. Lamadjido di Palu, Selasa (29/6/2026).

Ia menyampaikan hal tersebut pada kegiatan pertemuan evaluasi penurunan kematian Ibu (Perdarahan Postpartum dan Penanganan Eklampsia) serta kematian bayi (Prematuritas dan Asfiksia) melalui audit maternal perinatal surveilans dan Respons (AMPSR) Tingkat Provinsi Sulawesi Tengah Tahun 2026.

Ia mengatakan sebagian besar kematian ibu dan bayi sebenarnya dapat dicegah apabila proses deteksi dini, rujukan, dan pengambilan keputusan berjalan cepat.

Menurut dia, masih terdapat keterlambatan di tingkat keluarga dalam memutuskan membawa ibu hamil ke fasilitas kesehatan, sehingga kondisi pasien kerap memburuk saat tiba di rumah sakit.

Dia menuturkan keberhasilan menekan angka kematian ibu dan bayi tidak hanya ditentukan oleh ketersediaan fasilitas kesehatan, tetapi juga koordinasi yang kuat antara bidan koordinator, puskesmas, rumah sakit, dan keluarga ibu hamil sejak masa kehamilan.

Karena itu, pemerintah daerah didorong memperkuat pemantauan terhadap ibu hamil berisiko tinggi serta memastikan komunikasi yang intensif antara tenaga kesehatan dan keluarga pasien.

Selain itu, ia mendorong setiap kabupaten dan kota memberikan perhatian khusus terhadap upaya penurunan angka kematian ibu dan bayi, termasuk melalui pemberian penghargaan bagi daerah yang berhasil meningkatkan kualitas layanan kesehatan maternal dan neonatal.

Wakil gubernur juga meminta seluruh rumah sakit memastikan kesiapan tenaga medis, khususnya dokter spesialis kebidanan dan kandungan (obgyn) agar penanganan kasus kegawatdaruratan dapat dilakukan secara cepat tanpa menunggu proses yang berlarut-larut.

“Kita harus terus memperkuat sinergi antara dinas kesehatan, puskesmas, rumah sakit, tenaga kesehatan, dan pemerintah daerah. Dengan kerja sama yang solid, saya yakin angka kematian ibu dan bayi dapat terus ditekan,” ujarnya.

Ia menegaskan penguatan kolaborasi lintas sektor menjadi kunci dalam meningkatkan kualitas pelayanan kesehatan ibu dan anak serta memastikan masyarakat memperoleh layanan kesehatan yang semakin baik.

Related Articles

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Stay Connected

0FansSuka
0PengikutMengikuti
0PelangganBerlangganan
- Advertisement -spot_img

Latest Articles