21.1 C
New York
Rabu, September 9, 2026

Buy now

spot_img

Pakar Untad Tekankan Pembinaan Berkelanjutan Anak Terpapar Radikalisme

AKTIVI.ID-Pakar Komunikasi dan Terorisme Universitas Tadulako (Untad) Palu, Sulawesi Tengah (Sulteng) Prof Muhammad Khairil menekankan pentingnya pembinaan berkelanjutan terhadap anak yang terpapar radikalisme.

“Membina orang terjerumus paham radikal tidak cukup hanya dengan dialog, perlu pendekatan dengan paradigma untuk mengubah pola pikir mereka yang sudah telanjur radikal,” kata Muhammad Khairil, Rabu (9/9/2026) dikutip dari Antara.

Ia mengemukakan pembinaan dilakukan memang tidak semudah membalikkan telapak tangan, pendekatan persuasif melalui proses pembinaan berkelanjutan menjadi kunci utama mengembalikan kognisi berfikir mereka.

Apalagi, doktrin radikalisme telah menjadi perilaku, maka langkah normalisasi cara pandang dan tindakan perlu dilakukan lewat program terencana, terpadu, sistematis dan berkesinambungan.

“Banyak faktor memengaruhi orang berubah haluan ke arah yang negatif, karena ideologi radikal dapat mengarah pada tindakan terorisme bila tidak dilakukan pencegahan secara dini,” ujarnya.

Menurut dia, belasan anak terindikasi terpapar paham radikal bukan terjadi secara kebetulan, ada pihak-pihak tertentu secara sistematis menjalankan misi memengaruhi maupun merekrut orang dengan memanfaatkan berbagai peluang, termasuk ruang media sosial dan keterbukaan informasi.

“Di sini lah peran pemerintah, lembaga pendidikan, pemangku kepentingan maupun orang tua memberikan perhatian. Paling penting adalah menunjukkan dan memberikan keteladanan kepada anak bahwa ujaran kebencian itu sesuatu yang negatif,” tutur mantan Dekan FISIP Untad Palu.

Ia menjelaskan moderasi beragama salah satu cara menangkal masuknya paham ekstrem di tengah kehidupan sosial masyarakat, karena masifnya arus informasi di ruang-ruang publik selalu ada potensi radikalisme.

Kemudian, di tingkat pemerintah perlu mewaspadai seluruh aspek pada dunia pendidikan, kepala sekolah maupun guru harus mampu mengidentifikasi perubahan pola perilaku anak.

Di tingkat perguruan tinggi juga demikian, pencegahan perlu dimasifkan dengan menyisipkan pesan moderasi beragam di ruang kelas belajar maupun ruang perkuliahan.

“Perlu muatan pluralisme maupun cara beragama dengan sejuk dan damai disisipkan dalam kegiatan belajar-mengajar. Dari sisi orang tua juga perlu mengontrol aktivitas maupun pergaulan anak, cara-cara seperti ini salah satu metode menghindarkan anak terpapar paham yang ekstrem,” ucap Khairil .

Sebelumnya, Dinas Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (DP3A) menemukan 18 anak terindikasi terpapar radikalisme di Sulawesi Tengah.

Hingga kini dinas teknis terkait dan Densus 88 Antiteror Polri melakukan pembinaan kepada belasan anak tersebut.

Related Articles

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Stay Connected

0FansSuka
0PengikutMengikuti
0PelangganBerlangganan
- Advertisement -spot_img

Latest Articles