31.1 C
New York
Rabu, Juli 1, 2026

Buy now

spot_img

Mahasiswa Kupu-Kupu dan Standar Produktivitas yang Keliru

Penulis: YuliYanti / Mahasiswa Komunikasi dan Penyiaran Islam, UIN Datokarama Palu

“Kupu-kupu”, kuliah pulang, kuliah pulang. Istilah ini sering dilontarkan dengan nada meremehkan, seolah-olah mahasiswa yang langsung pulang setelah kelas adalah mereka yang kurang aktif, kurang bergaul, dan kurang berkembang. Label ini begitu lekat hingga jarang dipertanyakan, padahal di baliknya tersimpan banyak cerita yang tidak pernah benar-benar didengar.

Padahal, realitasnya tidak sesederhana itu. Mahasiswa “kupu-kupu” bisa jadi adalah perantau dengan kondisi finansial terbatas yang harus berhemat dengan memasak sendiri di kos. Bisa juga mereka yang harus segera pulang karena ada keluarga di rumah yang membutuhkan, seperti menjaga adik, membantu orang tua berjualan, atau menjalankan tanggung jawab lain yang tidak bisa ditunda. Ada pula yang memang membutuhkan ruang tenang untuk belajar, atau sekadar beristirahat setelah hari yang melelahkan secara fisik maupun mental. Dengan kata lain, pilihan untuk pulang sering kali lahir dari situasi yang tidak terlihat dari luar, dari pertimbangan-pertimbangan yang jarang sekali ditanyakan oleh orang lain sebelum menjatuhkan penilaian.

Sayangnya, alasan-alasan ini sering tidak terlihat. Yang dinilai hanya satu: tidak aktif di kampus. Penilaian yang terlalu cepat inilah yang kemudian membentuk stigma, dan stigma itu pelan-pelan menjelma menjadi standar tidak tertulis tentang seperti apa seharusnya mahasiswa “ideal” terlihat: sibuk rapat organisasi, aktif di berbagai kepanitiaan, dan selalu terlihat di lingkungan kampus hingga larut malam.

Memang, organisasi menawarkan banyak manfaat, seperti melatih kepemimpinan, kemampuan kerja sama tim, dan pengalaman sosial yang berharga. Pengalaman berorganisasi sering kali membentuk jejaring dan kepercayaan diri yang sulit didapat hanya dari ruang kelas. Namun, menjadikannya satu-satunya tolok ukur perkembangan adalah cara pandang yang keliru. Sebab, tidak semua proses belajar terjadi hanya di ruang-ruang formal kampus. Belajar bisa terjadi di dapur kos saat seseorang belajar mengatur keuangan sendiri, di rumah saat seseorang belajar tanggung jawab merawat keluarga, atau di depan laptop saat seseorang belajar keterampilan baru secara otodidak.

Banyak mahasiswa yang tidak aktif berorganisasi tetap berkembang dengan caranya sendiri: mulai dari belajar keterampilan secara mandiri lewat kursus daring, bekerja paruh waktu untuk membiayai kuliah, hingga membangun portofolio yang relevan dengan masa depan mereka. Ada yang diam-diam menulis, mengelola usaha kecil, mengasah kemampuan desain, atau bahkan menjadi tulang punggung ekonomi keluarga sembari tetap menyelesaikan studi tepat waktu. Produktivitas tidak selalu tampak dari seberapa lama seseorang berada di kampus, melainkan ada bentuk-bentuk kerja sunyi yang sering luput dari pengakuan karena tidak terjadi di ruang publik yang mudah dilihat dan dipuji.

Karena itu, yang perlu dilihat bukan sekadar kebiasaan “pulang”, tetapi alasan di baliknya. Jika itu tentang tanggung jawab, kebutuhan, atau pilihan sadar untuk menjaga diri, maka tidak ada yang salah dari pilihan tersebut. Justru di titik inilah empati menjadi lebih penting daripada penilaian sepihak. Memahami konteks seseorang sebelum menilai adalah bentuk penghargaan paling dasar terhadap perjuangan yang tidak selalu terlihat.

Mungkin yang perlu kita pertanyakan justru bukan mahasiswanya, melainkan standar yang kita gunakan untuk menilai mereka. Sudahkah kampus menjadi ruang yang inklusif bagi semua, bukan hanya bagi mereka yang aktif dan percaya diri tampil di depan umum? Sudahkah sistem pendidikan kita cukup fleksibel untuk mengakomodasi mahasiswa dengan kondisi ekonomi, keluarga, dan kapasitas mental yang berbeda-beda? Pertanyaan ini penting diajukan, sebab standar yang sempit hanya akan terus melahirkan rasa bersalah yang tidak perlu pada mereka yang sebenarnya sedang berjuang dengan caranya sendiri.

Pada akhirnya, persoalannya bukan tentang siapa yang salah, melainkan bagaimana kita memahami produktivitas itu sendiri. Produktivitas semestinya tidak diukur dari keramaian, melainkan dari hasil dan makna yang dibawa oleh setiap pilihan. Mahasiswa “kupu-kupu” bukan mahasiswa yang gagal berkembang, mereka hanya berkembang di ruang yang berbeda, dengan ritme yang berbeda, dan dengan caranya sendiri yang barangkali tidak pernah benar-benar kita lihat.

Related Articles

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Stay Connected

0FansSuka
0PengikutMengikuti
0PelangganBerlangganan
- Advertisement -spot_img

Latest Articles