12.8 C
New York
Sabtu, Mei 23, 2026

Buy now

spot_img

Gen Z Diingatkan Bahaya Pinjaman Online

AKTIVI.ID-Fenomena meningkatnya penggunaan pinjaman online, PayLater, hingga belanja impulsif di kalangan anak muda menjadi perhatian serius dunia pendidikan dan industri keuangan. Menjawab tantangan tersebut, Universitas Al-Azhar Indonesia (UAI) bersama Jaringan Pegiat Literasi Digital (Japelidi), ASPIKOM, dan Trimegah Sekuritas menggelar kegiatan bertajuk “Literasi Fintech: Anak Muda Smart Financial User” yang berlangsung di Ruang Serbaguna Universitas Al-Azhar Indonesia, Jakarta Selatan.

Rektor Universitas Al-Azhar Indonesia, Widodo Muktiyo, mengingatkan teknologi digital harus menjadi sarana membangun kualitas hidup. “Jadilah influencer yang memberikan oksigen, yang sehat dan mencerdaskan. Gunakan teknologi dan literasi finansial untuk membangun peradaban finansial yang sehat dan cerdas,” kata Widodo dikutip dari Republika.Co.Id.

Rektor mengajak mahasiswa memanfaatkan perkembangan teknologi digital secara positif dan bertanggung jawab, termasuk dalam memahami pengelolaan keuangan di era fintech. Dia menegaskan, generasi muda harus mampu menjadi pribadi yang membawa dampak baik melalui media digital.

Pembicara pertama, Engga Probi Endri, pengajar Universitas Mercubuana, menekankan literasi fintech bukan lagi sekadar kemampuan teknis memahami aplikasi keuangan, melainkan bentuk pertahanan diri terhadap jebakan utang digital dan manipulasi psikologis platform digital. “Pahami sebelum pakai. Literasi fintech bukan lagi sekadar pilihan, melainkan bentuk pertahanan diri terbaik terhadap jebakan utang dan penipuan,” tegasnya.

Anggota Japelidi ini menjelaskan alasan banyak anak muda merasa “aman” menggunakan cicilan digital, karena terlihat kecil. Padahal, kata dia, tanpa disadari akumulasi pengeluaran kecil tersebut dapat berkembang menjadi beban finansial besar.

Sementara itu, Devie Rahmawati dari Program Vokasi UI,  mengutip berbagai hasil penelitian internasional yang menunjukkan rendahnya self-control, budaya materialisme, loneliness, hingga kebutuhan diterima lingkungan menjadi faktor penting yang mendorong impulsive buying dan utang digital di kalangan anak muda. Anggota Japelidi ini menambahkan generasi muda saat ini hidup di era ketika “utang tidak lagi terasa menyakitkan”, karena teknologi digital telah menghilangkan “pain of paying” atau “rasa sakit” ketika mengeluarkan uang.

“Kalau dulu dompet kosong membuat orang berhenti belanja, hari ini notifikasi justru membuat orang lanjut checkout. Banyak anak muda tidak sadar sedang masuk dalam “frictionless economy”, yaitu sistem ekonomi digital yang membuat proses berhutang terasa ringan, cepat, dan hampir tanpa hambatan psikologis,” kata peneliti tentang kecanduan digital ini.

Menurut pendiri klinik digital pada 2018 tersebut, media sosial dan marketplace modern tidak lagi sekadar menjual barang, tetapi menjual emosi, pengakuan, dan rasa diterima. “Kadang yang dibeli bukan barang. Yang dibeli adalah rasa dianggap. Algoritma digital bekerja mempelajari emosi pengguna, termasuk kapan seseorang sedang sedih, lelah, kesepian, atau merasa tertinggal dibanding lingkungan sosialnya. Hari ini algoritma tidak hanya tahu apa yang kalian suka. Algoritma mulai tahu kapan kalian sedang rapuh,” jelasnya di hadapan lebih dari 70 mahasiswa.

Dalam sesi interaktif, Devie mengajak mahasiswa memahami perbedaan antara kebutuhan dan validasi sosial melalui pendekatan sederhana namun reflektif. “Literasi finansial hari ini juga harus mengajarkan kemampuan mengendalikan impuls dan mengenali manipulasi psikologis di era digital. Masalah terbesar generasi muda hari ini bukan tidak bisa mencari uang, tetapi terlalu cepat merasa punya uang. Belum lagi budaya ingin terlihat sukses di media sosial, sering kali membuat anak muda rela membeli barang di luar kemampuan finansialnya, termasuk barang tidak otentik, demi pengakuan sosial. Banyak orang hari ini terlihat kaya, tapi tidur ditemani cicilan,” ungkapnya.

Dari sisi industri, Ceasarini Felicia dari Trimegah Sekuritas menjelaskan pentingnya mengubah pola pikir generasi muda dari sekadar konsumsi menjadi investasi dan perencanaan masa depan. Dalam pemaparannya, Ceasarini memperkenalkan dasar-dasar pasar modal, saham, obligasi, dan reksa dana dengan pendekatan sederhana dan relevan untuk anak muda.

”Setiap orang memiliki tujuan finansial dan profil risiko berbeda sehingga strategi investasi juga harus disesuaikan dengan kebutuhan dan gaya hidup masing-masing,” jelasnya.

Materi yang dibawakan Ceasarini juga mengingatkan mahasiswa bahwa inflasi secara perlahan dapat menggerus nilai uang hari ini, apabila tidak dikelola dengan baik melalui investasi yang tepat. Selain itu, mahasiswa diperkenalkan pada konsep “risk vs reward”, yaitu pentingnya diversifikasi investasi, hingga bagaimana investasi dapat dilakukan mulai dari nominal kecil dan secara digital melalui platform fintech resmi dan legal.

Irwa Rochimah Zarkasi, selaku moderator menilai diskusi ini penting karena generasi muda saat ini menghadapi tantangan yang jauh berbeda dibanding generasi sebelumnya. Menurutnya, anak muda kini hidup dalam tekanan budaya digital yang sangat kuat, mulai dari tuntutan tampil sukses, tekanan media sosial, hingga paparan promosi digital yang berlangsung tanpa henti.

“Kegiatan ini menegaskan pentingnya kolaborasi lintas kampus dan komunitas dalam membangun budaya literasi digital yang sehat di Indonesia. Melalui keterlibatan Jaringan Pegiat Literasi Digital (JAPELIDI), forum ini tidak hanya menjadi ruang diskusi akademik, tetapi juga bagian dari gerakan nasional literasi digital yang telah melibatkan ratusan akademisi, peneliti, dan pegiat komunikasi dari berbagai perguruan tinggi di Indonesia,” tambah Cut Meutia Karolina, Panitia dari UAI dan Japelidi.

JAPELIDI selama ini dikenal aktif mendorong penguatan literasi digital berbasis riset, pendidikan, dan pengabdian masyarakat, termasuk isu hoaks, keamanan digital, budaya digital, hingga literasi finansial di era platform dan kecerdasan buatan. Kegiatan ini menjadi pengingat bahwa di era digital, literasi finansial bukan lagi sekadar kemampuan menghitung uang, tetapi kemampuan memahami diri sendiri di tengah dunia yang terus mendorong manusia untuk membeli, membandingkan, dan meminjam.

“Masa depan finansial anak muda tidak hanya ditentukan oleh berapa besar pendapatannya, tetapi oleh kemampuan untuk berkata: cukup!” tutup Devie Rahmawati.*

Related Articles

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Stay Connected

0FansSuka
0PengikutMengikuti
0PelangganBerlangganan
- Advertisement -spot_img

Latest Articles