Oleh : Nabilla Khaira /Mahasiswa Sastra Minangkabau Universitas Andalas
Bahasa merupakan alat komunikasi manusia yang digunakan pada kehidupan sehari-hari. Begitu juga di Minangkabau bahasa adalah unsur penting sebagai identitas masyarakat minangkabau. Bahasa tidak hanya berfungsi sebagai alat komunikasi saja tetapi juga sebagai sarana penyampaian nilai adat, norma sosial, petuah, dan pandangan hidup yang diwariskan turun-temurun. Dengan bahasa kita bisa tahu berbagai ungkapan adat, petatah-petitih dan cerita rakyat dapat dipahami dan diteruskan ke generasi berikutnya.
Namun, pada perkembangan zaman dan tingginya masyarakat minangkabau pergi merantau, pewarisan bahasa minangkabau dalam keluarga mengalami tantangan. Karena banyak keluarga perantau yang tidak menggunakan bahasa Minangkabau dalam rumahnya sebagai bahasa utama membuat kemampuan berbahasa minangkabau pada generasi berikutnya terus menurun.
Sejak dahulu, laki-laki di Minangkabau diharuskan pergi merantau meninggalkan kampung halaman untuk mencari pengalaman penghidupan yang lebih baik maupun untuk pendidikan. Dalam perkembangannya, tradisi ini bukan hanya dilakukan oleh laki-laki saja tetapi juga oleh perempuan bahkan hingga anggota keluargannya ikut ke perantauan. Akibatnya, banyak keluarga Minangkabau menetap di berbagai daerah di Indonesia maupun diluar negeri. Kondisi ini yang membuat memengaruhi bahasa Minangkabau dalam lingkungan keluarga.
Penyebab utama yang membuat krisis pewarisan bahasa Minangkabau pada keluarga perantau adalah perubahan pola komunikasi dalam rumah tangga. Banyak orang tua lebih memilih menggunakan bahasa Indonesia ketika berbicara dengan anak mereka yang dinggap lebih formal dan kekotaan. Akibatnya, bahasa Indonesia menjadi bahasa utama yang didapatkan oleh anak kecil, sementara bahasa Minangkabau hanya sesekali didengar bahkan tidak digunakan sama sekali di rumah.
Selain itu, penyebab lain ada di perkawinan antar etnis yang juga memengaruhi penggunaan bahasa Minangkabau. Dalam keluarga teridiri atas pasangan yang berbeda budaya, bahasa Indonesia lah yang sering dipilih untuk bahasa penghubung agar semua anggota keluarga dapat berkomunikasi dengan baik. Pilihan seperti ini cukup efektif dalam menciptakan komunikasi yang lancar, tetapi secara tidak langsung juga mengurangi kesempatan anak untuk bisa berbahasa Minangkabau secara alami. Ketika bahasa Minangkabau tidak lagi menjadi bahasa utama sehari-hari yang membuat proses pewarisan bahasa antargenerasi menjadi terhambat.
Pengaruh lingkungan sosial juga menjadi faktor penting krisis pewarisan bahasa terhambat. Anak-anak yang tumbuh didaerah perantauan sering berinteraksi dengan temannya menggunakan bahasa Indonesia. Mereka lebih terbiasa berbicara, mendengar, membaca dan menulis dalam bahasa Indonesia dibandingkan bahasa Minangkabau. Ini juga mengakibatkan kemampuan berbahasa Minangkabau semakin berkurang.
Krisis pewarisan bahasa Minangkabau tidak hanya berdampak pada kemampuan berbahasa saja, tetapi juga berpengaruh pada pemahaman budaya. Bahasa dan budaya merupakan dua unsur yang saling berkaitan satu sama lain. Banyak nilai adat Minangkabau yang tersimpan dalam ungkapan tradisional, petatah petitih, yang membuat orang sulit memahaminya apabila dia tidak menguasai bahasa Minangkabau. Ketika generasi muda kehilangan kemampuan berbahasa Minangkabau, mereka juga bisa kehilangan akses terhadap pengetahuan budaya Minangkabau yang diwariskan oleh leluhur.
Pada saat anak perantau pulang ke kampung mereka merasa kesulitan untuk memahami pidato adat, pasambahan, maupun percakapan para niniak mamak. Mereka bahkan sering memerlukan bantuan penerjemah ke bahasa Indonesia agar dapat memahami isi percakapan. Situasi ini membuat adanya jarak linguistik anatara generasi tua dan generasi muda. Jika kondisi ini terus berlangsung, kemampuan untuk meneruskan tradisi lisan di Minangkabau akan semakin melemah.
Meskipun demikian, krisis pewarisan bahasa Minangkabau bukanlah masalah yang tidak dapat diatasi. Orang tua dan keluarga memiliki peranan penting dalam menjaga pewarisan bahasa daerah. Penggunaan bahasa Minangkabau di rumah tidak harus menggantikan bahasa Indonesia. Kedua bahasa dapat digunakan secara berdampingan yang membuat anak mampu menguasai kedua bahasa dengan baik. Selain keluarga, komunitas perantau juga berperan penting dalam pelestarian bahasa. Berbagai kegiatan yang bisa dilakukan seperti pertemuan organisasi, pertunjukan bahkan lomba yang bisa membuat bahasa Minangkabau menjadi bahasa utama pada kegiatan tersebut. Lingkungan sosial yang mendukung bahasa Minangkabau akan memotivasi anak-anak perantau untuk bisa memepelajari dan mempertahankan bahasa Minangkabau.
Upaya pelestarian bahasa bukan hanya sekedar untuk alat komunikasi saja, tetapi juga untuk mempertahankan identitas budaya, nilai adat, dan warisan masyarakat Minangkabau agar tetap hidup di tengah perubahan zaman.



