31.9 C
New York
Sabtu, Juni 6, 2026

Buy now

spot_img

Refleksi Hari Lingkungan; Ketika Kata-Kata Mendahului Tindakan

Penulis ; Kasman Jaya / Guru Besar Pengelolan Lingkungan Hidup di Unisa Palu

Menulis tentang lingkungan pada Hari Lingkungan Hidup Sedunia, 5 Juni hari ini, sejatinya bukan sekadar menyalurkan kegemaran menulis. Momentum ini mengajak kita untuk merenung dan mengajukan satu pertanyaan mendasar, apakah lingkungan hidup kita sudah benar-benar menjadi lebih baik? Pertanyaan ini muncul karena ada paradoks. Di satu sisi, kesadaran berbicara tentang lingkungan meningkat. Di sisi lain, sampah masih menjadi persoalan, sungai masih tercemar, pohon masih ditebang tanpa kendali, penggunaan plastik sekali pakai masih menjadi kebiasaan yang sulit ditinggalkan, dan eksploitasi sumber daya alam masih berlangsung secara masif, bahkan kerap melampaui daya dukung lingkungan itu sendiri.

Lingkungan seolah menjadi tema yang sangat populer untuk dibicarakan, tetapi kurang populer untuk diperjuangkan melalui tindakan. Saya menyebut fenomena ini sebagai sastra lingkungan. Istilah ini bukan dimaksudkan untuk merendahkan sastra ataupun ilmu pengetahuan, melainkan sebagai kritik terhadap kecenderungan kita yang lebih gemar menarasikan lingkungan daripada merawatnya. Lingkungan dipenuhi kata-kata indah, tetapi miskin praktik. Kita memuji alam dalam tulisan dan gambar, namun kita sering lalai menjaga kebersihannya. Kita mengagumi pohon dalam banyak narasi dan lukisan, namun kita enggan menanam dan merawatnya. Kita memahami teori keberlanjutan, tetapi tidak mengubah pola hidup menjadi lebih berkelanjutan.

Kita memiliki begitu banyak pengetahuan dan sains lingkungan, tetapi sebagian besar masih berhenti menjadi sastra lingkungan, indah dalam kata-kata, miskin dalam tindakan. Dan masalah lingkungan sesungguhnya bukan lagi persoalan kurangnya pengetahuan. Informasi tentang perubahan iklim, pencemaran, hilangnya keanekaragaman hayati, hingga ancaman krisis air tersedia dengan sangat mudah. Buku, jurnal, media massa, bahkan media sosial telah menyediakan pengetahuan yang melimpah. Persoalan sesungguhnya terletak pada kesenjangan antara das sollen dan das sein. Krisis etika lingkungan terjadi ketika pengetahuan, aturan atau nilai ideal-kearifan lokal (das sollen) yang dibuat masyarakat atau institusi dilanggar oleh realitas yang sepenuh belum menjelma menjadi tindakan (das sein). Kita memiliki harapan tentang bumi yang lestari, namun kenyataan sehari-hari masih menunjukkan praktik-praktik yang menjauh dari cita-cita tersebut.

Bukan berarti kita tidak membutuhkan lebih banyak tulisan tentang lingkungan. Tulisan tetap penting untuk membangun kesadaran dan menggerakkan opini publik. Namun yang lebih dibutuhkan adalah kesinambungan antara kata dan perbuatan. Pengetahuan harus menjelma menjadi kebiasaan, dan kepedulian harus menjelma menjadi tindakan.

Dalam banyak hal, kita sering terjebak pada ilusi partisipasi. Merasa telah berkontribusi hanya karena membagikan unggahan bertema lingkungan, menghadiri seminar, atau menulis pernyataan kepedulian. Padahal lingkungan tidak berubah hanya karena dibicarakan dan diskusikan. Lingkungan berubah ketika perilaku manusia berubah. Tentu kearah yang lebih peduli, berupa tindakan nyata. Sebagai sebuah kenyataan sederhana. Sampah tidak berkurang karena kita memahami definisi sampah. Sampah berkurang ketika kita memilih untuk mengurangi penggunaannya, menggunakan kembali apa yang masih layak pakai, dan mendaur ulang apa yang masih dapat dimanfaatkan. Prinsip 3R (Reduce, Reuse, dan Recycle) sesungguhnya bukan persoalan pengetahuan, melainkan persoalan kemauan untuk mempraktikkannya secara konsisten. Emisi karbon demikan halnya, tidak turun karena kita hafal konsep perubahan iklim. Emisi turun ketika kita mengubah cara hidup dan pola konsumsi. Sungai tidak menjadi bersih karena banyak penelitian tentang pencemaran air. Sungai menjadi bersih ketika pencemaran itu dihentikan.

Di sinilah pentingnya menggeser orientasi dari sekadar kesadaran menuju pembiasaan. Kesadaran memang penting sebagai titik awal, tetapi ia belum cukup. Kesadaran yang tidak melahirkan tindakan hanya akan menjadi pengetahuan yang mengendap. Sebaliknya, tindakan yang dilakukan secara konsisten akan membentuk budaya baru yang lebih ramah lingkungan.

Mungkin sudah saatnya kita mengukur kepedulian lingkungan hidup bukan dari seberapa sering kita berbicara tentang bumi  dan lingkungannya, melainkan dari seberapa jauh kita mengurangi jejak kerusakan yang ditinggalkannya. Sebab pada akhirnya, lingkungan tidak menilai manusia dari orasi, seminar, ataupun unggahannya di media sosial. Lingkungan hanya merasakan dampak dari apa yang benar-benar dilakukan manusia terhadapnya. Dari setiap pohon yang kita tanam. Dari setiap sampah yang kita pungut dan setiap kerusakan yang kita cegah. Karena itu, mungkin ungkapan paling jujur dari bumi kepada manusia adalah, “Thank you every time you carry me.” Terima kasih setiap kali engkau memilih merawatku.

 

Related Articles

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Stay Connected

0FansSuka
0PengikutMengikuti
0PelangganBerlangganan
- Advertisement -spot_img

Latest Articles