10.2 C
New York
Rabu, Oktober 21, 2026

Buy now

spot_img

Menembus Tirai Kepalsuan: Sebuah Ketulusan yang Abadi

Penulis: Amal Alkhairaaty / Aktivis

Setiap tanggal 22 Oktober, panggung sandiwara nasional mendadak disulap menjadi lautan kain sarung dan peci hitam yang berkilau karena sorotan lampu kamera.

Hari Santri datang layaknya tamu agung tahunan yang disambut dengan karpet merah retorika manis, seolah-olah sepanjang tahun sebelumnya para santri tidak pernah dianggap sebagai penonton kelas dua di negeri sendiri.

Para petinggi negeri berlomba-lomba mengenakan atribut keagamaan dengan kaku, seolah-olah sehelai kain sarung bisa otomatis melunturkan dosa-dosa kebijakan yang mereka buat kemarin sore.

Pesantren, di mata para pemuja pencitraan, sering kali disulap menjadi pabrik kesucian otomatis tempat para pemuda dikurung dalam sangkar-sangkar sunyi dan dipaksa menghafal kitab kuning di bawah ancaman rotan imajiner.

Masyarakat luar mengagumi ketabahannya dari kejauhan, tapi begitu gerbang pondok dibuka, mereka buru-buru menyemprotkan disinfektan pemikiran modern agar para santri tidak “menularkan” radikalisme purba ke pusat-pusat perbelanjaan mewah.

Betapa indahnya hidup dalam kepura-puraan kolektif, di mana kemiskinan struktural dibungkus rapi menjadi “kezuhudan” yang romantis.

Lihatlah bagaimana para politikus musiman mendadak bertransformasi menjadi wali agung begitu musim kampanye atau Hari Santri tiba. Mereka yang biasanya sibuk menghitung rente dan melobi anggaran, kini dengan gemetar memegang tasbih di depan awak media demi meraup suara dari lumbung-lumbung pesantren. Tasbih itu bukan lagi alat untuk mengingat Sang Pencipta, melainkan kalkulator politik paling murah meriah untuk menghitung persentase kekuasaan. Sungguh sebuah mukjizat modern: kain sarung kini punya kekuatan magis untuk melipatgandakan kursi di parlemen.

Sejarah mencatat santri pernah menjadi bubuk mesiu yang membakar semangat kemerdekaan dengan pekikan takbir di medan laga Surabaya. Namun hari ini, darah dan air mata para pendahulu itu direduksi menjadi komoditas nostalgia yang dijual murah dalam bentuk pidato-pidato klise penuh air mata buaya. Kita mengenang resolusi jihad dengan gegap gempita, tetapi melupakan bahwa para penerusnya hari ini sering kali harus berjibaku melawan kemiskinan, penggusuran lahan pesantren, dan diskriminasi birokrasi yang memuakkan.

Masyarakat kota dengan bangga sering menyebut santri sebagai “benteng moral bangsa”, sebuah pujian manis yang sebenarnya berfungsi sebagai borgol halus agar para santri tetap diam dan tidak menuntut kesejahteraan yang layak. Ketika ada santri yang bersuara kritis terhadap ketidakadilan, mereka langsung dicap sebagai pembangkang yang kurang adab dan lupa daratan. Pujian itu hanyalah penutup mata agar kita tidak perlu repot-repot menyediakan fasilitas pendidikan yang manusiawi bagi mereka yang tidur di atas lantai asrama yang lembap.

Kini, di era digital yang bising, santri dipaksa hidup di persimpangan jalan yang absurd: satu tangan menggenggam smartphone canggih untuk mengejar algoritma media sosial, sementara tangan lainnya tetap harus memutar biji tasbih demi menjaga kewarasan spiritual. Mereka adalah cyborg religius yang hidup dalam dunia tanpa batas, sementara sebagian orang di luar sana masih memperlakukan mereka seolah-olah mereka hidup di abad pertengahan. Masa depan mereka digadaikan di atas altar disrupsi teknologi, sementara negara hanya bisa menonton sambil memberikan lencana “Santri Teladan” yang tidak bisa ditukar dengan sembako.

Tepat tengah malam nanti, ketika jarum jam melewati tanggal 22 Oktober, panggung megah itu akan dibongkar dan lampu sorot dipadamkan. Kain sarung dan peci akan kembali dilipat rapi ke dalam koper berdebu, sementara para santri dikembalikan ke sudut-sudut sunyi realitas sosial yang abai. **

Selamat Hari Santri, wahai para penjaga moral yang hanya diingatkan ketika bangsa ini butuh pahlawan cadangan, dan dilupakan lagi esok pagi saat kopi pagi kembali dihidangkan.

Di balik segala riuh rendah panggung pencitraan dan gema retorika tahunan, semoga Hari Santri bukan sekadar seremonial yang usai begitu fajar berganti. Selamat Hari Santri Nasional—kepada setiap jiwa yang tetap merawat lentera ilmu dengan keikhlasan sejati, yang langkah kakinya menjadi jembatan antara keluhuran spiritual dan kemajuan zaman, serta yang terus menjaga api peradaban tanpa mengharapkan tepuk tangan dari panggung dunia.**

Related Articles

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Stay Connected

0FansSuka
0PengikutMengikuti
0PelangganBerlangganan
- Advertisement -spot_img

Latest Articles