AKTIVI.ID– Sebanyak 20 pelaku usaha kecil dari Desa Lolu, Kecamatan Sigi Biromaru, Kabupaten Sigi, mengikuti pelatihan pembuatan konten pemasaran digital yang digelar tim dosen Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB) Universitas Tadulako (Untad), Selasa-Rabu (1-2/9/2026).
Pelatihan bertajuk “Pelatihan Pembuatan Konten E-Commerce pada Pelaku Usaha Kecil di Desa Lolu Kabupaten Sigi” ini merupakan bagian dari program Pengabdian Kepada Masyarakat Skema Produk Unggulan Daerah yang dibiayai Dana BLU FEB Untad Tahun Anggaran 2026.
Program ini diketuai Dr. Umar Syarifuddin, S.E., M.Si., beranggotakan enam dosen lintas bidang manajemen pemasaran, operasi, dan keuangan, serta dibantu sejumlah mahasiswa sebagai pendamping lapangan.
Ketua Tim Pengusul, Dr. Umar Syarifuddin, mengatakan pelatihan ini digagas untuk menjawab persoalan keterbatasan akses pasar yang dialami pelaku usaha kecil di perdesaan, meski produk yang dihasilkan sebenarnya berpotensi dipasarkan lebih luas.
“Selama ini banyak produk unggulan Desa Lolu yang sebenarnya bagus, tapi pemasarannya masih terbatas dari mulut ke mulut. Padahal dengan platform seperti Shopee atau TikTok Shop, jangkauan pasarnya bisa jauh lebih luas tanpa biaya promosi besar,” katanya.
Selama dua hari, peserta dibekali materi dasar pemasaran digital, teknik fotografi produk menggunakan kamera smartphone, hingga praktik membuat desain konten promosi lewat aplikasi Canva. Umar mengakui, tantangan terbesar pelatihan ini adalah rendahnya keakraban peserta dengan perangkat digital, sehingga mahasiswa pendamping harus membimbing peserta satu demi satu.
Di akhir kegiatan, para peserta menyepakati pembentukan Komunitas Usaha Digital Desa Lolu sebagai wadah berbagi informasi dan saling mendukung mengembangkan usaha secara digital.
Tim pengusul menyatakan akan melanjutkan program dengan pendampingan lapangan secara berkala dalam beberapa bulan ke depan, agar peserta benar-benar mampu membuka dan mengelola toko online secara mandiri.
Program ini juga menjadi bagian dari implementasi kebijakan Merdeka Belajar–Kampus Merdeka (MBKM), di mana mahasiswa yang terlibat mendapatkan pengalaman belajar langsung di luar kampus sekaligus rekognisi satuan kredit semester (SKS).*

