Penulis; Zellia Syasya Fadhilah / Mahasiswa Sastra Minangkabau Universitas Andalas Padang.
Dima bumi dipijak, disinan langik dijunjuang merupakan salah satu pepatah Minangkabau yang sangat terkenal. Secara harfiah, ungkapan ini berarti di mana bumi dipijak, di sana langit dijunjung. Bumi melambangkan tempat seseorang berada, sedangkan langit melambangkan adat, norma, aturan, dan nilai-nilai yang dihormati oleh masyarakat di tempat tersebut.
Secara makna, pepatah ini mengajarkan bahwa setiap orang harus mampu menyesuaikan diri dengan lingkungan tempat ia hidup atau berada. Ketika seseorang memasuki suatu daerah, kelompok masyarakat, organisasi, atau lingkungan baru, ia perlu menghormati kebiasaan, adat istiadat, aturan, dan budaya yang berlaku di sana. Sikap ini bukan berarti meninggalkan identitas atau nilai yang dimiliki, tetapi menunjukkan rasa hormat kepada orang lain agar tercipta kehidupan yang harmonis.
Dalam masyarakat Minangkabau, pepatah ini memiliki hubungan yang erat dengan tradisi merantau. Banyak orang Minang yang pergi ke berbagai daerah bahkan ke luar negeri untuk mencari ilmu dan penghidupan. Ketika berada di tempat baru, mereka diharapkan dapat bergaul dengan baik, menghormati masyarakat setempat, serta mematuhi aturan yang berlaku. Dengan demikian, mereka dapat diterima oleh lingkungan sekitar dan membangun hubungan yang baik dengan masyarakat.
Pepatah ini juga mengandung beberapa nilai penting. Pertama, nilai adaptasi, yaitu kemampuan menyesuaikan diri dengan situasi dan lingkungan yang berbeda. Kedua, nilai toleransi, yaitu menghargai perbedaan adat, budaya, agama, dan kebiasaan orang lain. Ketiga, nilai kesopanan, yaitu menjaga sikap dan perilaku agar tidak menyinggung masyarakat setempat. Keempat, nilai persatuan dan kerukunan, karena sikap saling menghormati akan mengurangi konflik dan mempererat hubungan antar masyarakat.
Contoh penerapan pepatah ini dalam kehidupan sehari-hari adalah seorang mahasiswa yang berasal dari Sumatera Barat dan melanjutkan pendidikan di Jawa. Ia tetap mempertahankan identitasnya sebagai orang Minang, tetapi juga menghormati budaya, tata krama, dan aturan yang berlaku di lingkungan tempat ia belajar. Contoh lainnya adalah seseorang yang bekerja di perusahaan baru. Agar dapat bekerja dengan baik, ia perlu memahami dan mengikuti peraturan serta budaya kerja yang berlaku di perusahaan tersebut.
Dengan demikian mengajarkan bahwa manusia harus memiliki sikap menghormati, menyesuaikan diri, dan menghargai aturan serta budaya di mana pun ia berada. Sikap ini penting untuk menciptakan hubungan yang baik, menjaga keharmonisan, dan menunjukkan kedewasaan dalam kehidupan bermasyarakat.**



