11.6 C
New York
Rabu, April 29, 2026

Buy now

spot_img

Di Tengah Kekosongan Juknis Pendidikan Daerah, Putra Dampelas Ajak Sekolah Bergerak Jaga Bahasa Lokal

AKTIVI.ID— Di tengah kekosongan petunjuk teknis (juknis) pendidikan muatan lokal dari Pemerintah Daerah Donggala, inisiatif menjaga eksistensi bahasa daerah justru lahir dari kolaborasi antara pemuda dan lembaga pendidikan. Momentum tersebut tampak dalam distribusi Kamus Bergambar Bahasa Dampelas di SMAN 1 Dampelas dan SMAN 2 Dampelas pada 29–30 April 2026, menjelang peringatan Hari Pendidikan Nasional.

Pengadaan buku dilakukan oleh pihak sekolah sebagai bagian dari penguatan literasi perpustakaan, sementara distribusi diserahkan langsung oleh penulisnya, Opick Delian Alindra, S.H., CPS, putra asli Dampelas sekaligus Pemuda Pelopor Desa Tahun 2025 dan pemerhati bahasa daerah.

Kehadiran Opick membawa pesan yang lebih luas dari sekadar penyerahan buku. Ia mengajak sekolah untuk tidak menunggu kebijakan formal semata, tetapi mulai mengambil peran aktif menjaga identitas kebudayaan melalui ruang pendidikan.

“Ketika regulasi belum sepenuhnya hadir, inisiatif pendidikan tidak boleh berhenti. Sekolah bisa menjadi pelopor menjaga bahasa daerah agar tetap hidup di tengah generasi muda,” ujar Opick.

Menurutnya, kekosongan juknis muatan lokal tidak seharusnya menjadi alasan hilangnya bahasa daerah dari ruang belajar. Justru, partisipasi sekolah menjadi kekuatan utama dalam mempertahankan nilai tradisional, sejarah lokal, serta karakter kebudayaan masyarakat Dampelas.

Sebagai kader Pelajar Islam Indonesia (PII), Opick menegaskan bahwa pendidikan memiliki tanggung jawab moral menjaga warisan budaya sebagai bagian dari pembentukan karakter bangsa. Ia mendorong lahirnya gerakan pendidikan berbasis kearifan lokal yang tumbuh dari kesadaran bersama, bukan hanya dari kebijakan administratif.

Kepala SMAN 2 Dampelas, Mirwana, S.Ag, menyambut baik semangat kolaboratif tersebut. Ia menilai pengadaan Kamus Bergambar Bahasa Dampelas bukan hanya memperkaya bahan bacaan siswa, tetapi juga membuka ruang penguatan identitas lokal di sekolah.

“Pengadaan buku ini membantu sekolah menambah koleksi literasi sekaligus mendukung percepatan akreditasi perpustakaan. Lebih dari itu, ini menjadi langkah konkret menjaga bahasa daerah tetap dikenal oleh peserta didik,” ungkapnya.

Distribusi kamus bergambar ini menjadi gambaran bahwa peran pemuda dan sekolah mampu menghadirkan solusi di tengah keterbatasan kebijakan teknis daerah. Dari ruang perpustakaan sekolah, lahir pesan kuat bahwa pendidikan bukan sekadar mengikuti sistem, tetapi juga menjaga peradaban. *

Related Articles

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Stay Connected

0FansSuka
0PengikutMengikuti
0PelangganBerlangganan
- Advertisement -spot_img

Latest Articles