23.5 C
New York
Kamis, September 10, 2026

Buy now

spot_img

Agung Danarto: Perguruan Tinggi Harus Siapkan Lulusan Hadapi Dunia yang Tak Linier

AKTIVI.ID— Ketua Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah, Dr. H. Agung Danarto, M.Ag., mengatakan kemampuan beradaptasi menjadi salah satu kompetensi penting yang harus dimiliki lulusan perguruan tinggi di tengah perubahan dunia yang semakin cepat dan tidak linier.

Menurut Agung, kehidupan saat ini menunjukkan bahwa latar belakang pendidikan seseorang tidak selalu menentukan bidang pekerjaan yang akan digelutinya. Kondisi tersebut menuntut lulusan perguruan tinggi memiliki kemampuan untuk terus belajar dan beradaptasi dengan berbagai perubahan.

“Sekarang ini adaptasi akademik sangat dibutuhkan, karena kehidupan kita serba tidak linier. Seorang sarjana, lulusan bidangnya apa, kerjanya bisa di bidang yang lain,” kata Agung, di Gedung Banua Kaili (GBK) Rusdy Toana, Kompleks Universitas Muhammadiyah (Unismuh) Palu, Sabtu (5/9/2026).

Ia mencontohkan, banyak sarjana pertanian yang kemudian bekerja di sektor perbankan. Begitu pula sarjana pendidikan yang berkarier di sektor pertambangan.

“Banyak sarjana pertanian yang bekerja di perbankan, sarjana pendidikan yang bekerja di pertambangan. Bahkan ada sarjana kehutanan yang lulus kemudian menjadi Presiden Republik Indonesia,” ujarnya.

Agung menilai, dalam kehidupan yang semakin tidak linier, hal terpenting yang harus dimiliki mahasiswa bukan hanya penguasaan terhadap satu bidang ilmu, melainkan kemampuan mengetahui cara belajar.

Ia menjelaskan, ilmu yang diperoleh seseorang ketika menempuh pendidikan sarjana belum tentu seluruhnya digunakan secara langsung dalam perjalanan karier. Namun, kemampuan untuk belajar dan memahami hal-hal baru akan menjadi bekal penting dalam menghadapi perubahan.

Dengan kemampuan tersebut, kata dia, lulusan akan lebih siap ketika harus memasuki bidang baru yang berbeda dengan latar belakang pendidikannya.

“Sehingga bidang apa pun, selalu siap untuk menghadapi karena sudah tahu bagaimana cara belajarnya,” katanya.

Terlebih lagi, perkembangan teknologi kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI) semakin memudahkan seseorang dalam mempelajari berbagai bidang ilmu. Menurut Agung, kondisi tersebut membuat batas-batas keilmuan semakin terbuka dan seseorang dapat mempelajari pengetahuan baru dengan lebih mudah.

Karena itu, Agung menegaskan perguruan tinggi perlu melakukan perubahan dalam pola pendidikan mahasiswa. Perguruan tinggi tidak cukup hanya membekali mahasiswa dengan hafalan teori dan rumus, tetapi juga harus membangun kemampuan berpikir, memecahkan masalah, berkomunikasi, bekerja sama, dan beradaptasi.

Mahasiswa, lanjutnya, perlu dilatih untuk berpikir kritis dan tidak sekadar menghafal teori. Mereka juga harus dibiasakan belajar secara mandiri agar memiliki kemampuan lifelong learning atau pembelajaran sepanjang hayat.

Selain itu, proses pembelajaran perlu lebih banyak menggunakan kasus nyata yang berkaitan dengan dunia kerja. Pendekatan tersebut dinilai dapat membantu mahasiswa memahami persoalan sekaligus melatih kemampuan mencari solusi.

“Latih pemecahan masalah. Gunakan kasus nyata dari dunia kerja di dalam kelas,” ujarnya.

Perguruan tinggi juga perlu membekali mahasiswa dengan kemampuan beradaptasi, termasuk kesiapan mental dalam menghadapi perubahan maupun kegagalan. Kemampuan komunikasi dan kerja sama dalam tim yang beragam juga menjadi bagian penting dari kompetensi lulusan.

Di sisi lain, kreativitas mahasiswa perlu terus diasah agar mereka tidak hanya berorientasi mencari pekerjaan, tetapi mampu menciptakan peluang dan lapangan kerja baru.

Agung menambahkan, tidak kalah penting adalah ilmu harus dilandasi moral dan spiritualitas. Pendidikan Muhammadiyah sejak awal tidak hanya berorientasi pada penguasaan ilmu pengetahuan, tetapi juga menanamkan nilai moral dan spiritualitas kepada peserta didik.

Menurutnya, ilmu pengetahuan harus diarahkan untuk memberikan manfaat bagi kehidupan dan kemajuan masyarakat.

“Pendidikan Muhammadiyah selalu mengajarkan kepada anak didik ilmu-ilmu yang bermanfaat untuk kehidupan di masa yang akan datang. Tapi bukan hanya ilmu saja yang diajarkan, juga moral dan spiritualitas,” katanya.

Ia menegaskan, kecerdasan tanpa moralitas dapat disalahgunakan. Orang yang memiliki kemampuan intelektual tinggi, tetapi tidak memiliki landasan moral yang baik, justru berpotensi menggunakan kepandaiannya untuk melakukan tindakan yang merugikan orang lain.

“Orang pintar kalau tidak disertai dengan moral yang baik, maka dia akan menjadi smart crime, menjadi kriminal yang cerdas,” tegasnya.

Karena itu, Agung menekankan pentingnya menyeimbangkan kecerdasan intelektual dengan moralitas dan spiritualitas. Dengan fondasi tersebut, ilmu pengetahuan yang diperoleh lulusan diharapkan dapat digunakan secara bertanggung jawab untuk memberikan manfaat bagi masyarakat.

Related Articles

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Stay Connected

0FansSuka
0PengikutMengikuti
0PelangganBerlangganan
- Advertisement -spot_img

Latest Articles