AKTIVI.ID — Di tengah derasnya arus modernisasi yang perlahan menggerus identitas lokal, lembaga pendidikan di Kecamatan Dampelas, Kabupaten Donggala justru menunjukkan arah berbeda. Sekolah-sekolah mulai mengambil peran penting sebagai garda terdepan dalam menjaga keberlangsungan bahasa daerah melalui dunia pendidikan.
Kesadaran tersebut terlihat dari penggunaan Buku Kamus Bergambar Bahasa Dampelas sebagai bahan ajar muatan lokal di SDN 14 Dampelas. Para guru merasakan perubahan nyata dalam proses pembelajaran sejak hadirnya buku tersebut di ruang kelas.
Guru kelas sekaligus pengampu mata pelajaran muatan lokal SD, Nurjanah, S.Pd., mengungkapkan bahwa sebelumnya pembelajaran bahasa daerah berjalan tanpa pegangan materi yang jelas. Kini peserta didik lebih mudah memahami kosakata bahasa Dampelas karena disajikan secara sistematis dan dilengkapi ilustrasi yang menarik.
Hal senada disampaikan oleh Elis Sumianti, S.Pd, yang juga aktif mengajarkan bahasa daerah kepada peserta didik. Ia menilai kehadiran buku tersebut menjadi langkah kecil namun penting dalam menghidupkan kembali bahasa ibu di lingkungan sekolah.
Elis Sumianti diketahui merupakan ibu dari Opick Delian Alindra, pemuda Dampelas yang menulis buku tersebut sebagai bentuk kepedulian terhadap pelestarian bahasa dan budaya daerahnya.
Namun di balik inisiatif pendidikan yang mulai tumbuh, terdapat persoalan mendasar yang masih menjadi pekerjaan rumah pemerintah daerah. Hingga saat ini belum terdapat petunjuk teknis maupun regulasi resmi berupa Peraturan Bupati yang mengatur secara konkret kurikulum, standar pembelajaran, serta penggunaan bahan ajar bahasa daerah di Kabupaten Donggala.
Kondisi ini menjadikan langkah sekolah-sekolah di Dampelas sebagai bentuk kesadaran kolektif yang lahir lebih dahulu dibandingkan kebijakan formal.
Bagi banyak pihak, situasi tersebut menjadi sinyal kuat bahwa lembaga pendidikan tidak hanya berfungsi sebagai ruang transfer ilmu pengetahuan, tetapi juga sebagai penjaga identitas budaya masyarakat.
Menanggapi perkembangan tersebut, Opick Delian Alindra mengaku terharu melihat karyanya dapat digunakan langsung dalam proses pembelajaran.
Ia menilai bahwa kesadaran sekolah untuk bergerak menjaga bahasa daerah merupakan harapan besar bagi masa depan kebudayaan lokal. “Saya merasa bahagia karena sekolah-sekolah mulai sadar bahwa bahasa daerah bukan sekadar pelajaran tambahan, tetapi bagian dari jati diri masyarakat,” ujarnya.
Kesadaran yang sama juga mulai tumbuh di jenjang pendidikan menengah. SMAN 1 Dampelas dan SMAN 2 Dampelas diketahui tengah melakukan pengadaan buku kamus bergambar tersebut untuk koleksi perpustakaan sekolah, agar peserta didik tetap memiliki ruang belajar bahasa daerah.
Distribusi buku direncanakan akan dilakukan dalam satu hingga dua minggu ke depan.
Opick berharap langkah sekolah-sekolah di Dampelas dapat menjadi contoh bahwa pelestarian bahasa daerah tidak harus menunggu kebijakan lahir lebih dulu. Justru, kesadaran lembaga pendidikan dapat menjadi pemantik lahirnya perhatian serius dari pemerintah daerah.
Di tengah kekosongan regulasi, sekolah-sekolah di Dampelas hari ini seakan mengirim pesan kuat: menjaga bahasa ibu adalah tanggung jawab bersama, dan pendidikan adalah benteng terakhir bagi keberlangsungan budaya lokal.*



