Oleh: Nur Syamsinar / Penulis adalah Mahasiswi Bimbingan Konseling UNTAD
Ada pemandangan yang semakin akrab: mahasiswa duduk berhadapan, tetapi tidak benar-benar saling hadir. Sebelum percakapan mengalir, sebelum kopi disentuh, ada satu momen yang harus dilewati—mengambil foto, memilih sudut terbaik, memastikan semuanya tampak “cukup”. Seolah-olah kebahagiaan belum sah jika belum diunggah.
Dan ketika percakapan akhirnya dimulai, cerita tentang masa depan atau tentang akademik justru sering tersisih. Yang lebih banyak dibicarakan adalah hubungan—siapa yang sedang dekat, siapa yang bertahan, dan siapa yang terlihat paling bahagia. Bukan karena masa depan dan akademik tidak penting, tetapi karena apa yang terlihat sering kali terasa lebih mendesak untuk dijaga.
Di balik itu, ada tekanan yang tidak selalu terlihat, tetapi diam-diam dirasakan: tekanan untuk diakui, untuk terlihat berhasil, dan untuk tidak tertinggal dari yang lain.
Fenomena ini semakin terasa di tengah meningkatnya jumlah mahasiswa baru. Penerimaan Mahasiswa Baru tahun 2025 meningkat sangat pesat, bahkan melampaui tahun sebelumnya. Hal ini menjadi tekanan besar bagi siswa yang ingin melanjutkan pendidikan. Mereka datang dengan harapan dan doa, namun di kampus sering kali terjebak dalam tuntutan sosial yang mendominasi. Tidak sedikit mahasiswa yang akhirnya kehilangan arah awal karena tekanan yang muncul, baik secara eksternal maupun internal.
Kampus sejatinya merupakan ruang pendidikan tinggi yang tidak hanya mengembangkan pengetahuan, tetapi juga membentuk karakter, moralitas, dan kepribadian mahasiswa. Namun, belakangan ini kampus justru kerap menghadirkan tekanan, padahal seharusnya menjadi tempat yang aman dan nyaman tanpa perbandingan yang tidak terlihat, tetapi terasa nyata.
Tekanan sosial dan kebutuhan akan validasi saling berkaitan erat. Berbagai penelitian menunjukkan bahwa media sosial menciptakan standar, gaya hidup, dan citra diri yang tidak selalu sesuai dengan kenyataan. Akibatnya, banyak mahasiswa terdorong untuk mengejar pengakuan demi merasa cukup.
Penelitian lain menunjukkan bahwa penggunaan media sosial yang berlebihan berkaitan dengan kesehatan mental. Aktivitas fisik yang rendah dan waktu layar yang tinggi dapat memicu penurunan kepercayaan diri, bahkan mengubah motivasi menjadi tekanan. Hal ini menegaskan bahwa dunia digital sering kali dianggap sebagai representasi utama diri seseorang.
Di kampus, tekanan ini sering hadir tanpa disadari, tetapi terasa nyata. Ia muncul dalam berbagai bentuk: penyesuaian terhadap tuntutan lingkungan, ketakutan tertinggal tren (FOMO), tekanan penampilan, hingga ekspektasi dalam relasi asmara. Standar seperti “kalau tidak good looking, minimal pintar” yang seharusnya menjadi motivasi, justru terasa seperti kewajiban.
Menurut data Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), terdapat sekitar 800.000 kasus bunuh diri setiap tahunnya, dengan salah satu penyebab utama adalah masalah percintaan. Hal ini menunjukkan bahwa tekanan sosial dapat berdampak serius, tidak hanya bagi individu, tetapi juga keluarga.
Fenomena ini tidak terlepas dari derasnya arus informasi di media sosial. Selain menjadi sarana komunikasi, media sosial juga membentuk standar sosial yang memicu perbandingan dan tekanan. Interaksi yang terus-menerus dengan dunia digital dapat meningkatkan rasa tidak percaya diri.
Jika tidak dikelola, tekanan sosial dan kebutuhan akan validasi dapat berdampak buruk. Mahasiswa sering berlomba untuk terlihat berhasil dan sesuai standar sosial. Tanpa disadari, hal ini menggerogoti kesehatan mental.
Data Pusiknas Bareskrim Polri mencatat 1.270 kasus bunuh diri di Indonesia sejak 7 November 2025, dengan rata-rata lebih dari 100 kasus per bulan. Psikolog Nurul Kusuma Hidayati, M.Psi., menjelaskan bahwa kondisi ini dipengaruhi oleh tekanan ekonomi, psikologis, tuntutan sosial, dan gaya hidup yang tidak terkelola.
Data tersebut menunjukkan bahwa tekanan sosial tidak bisa dianggap remeh. Namun, masih banyak yang menutup mata terhadap fenomena ini.
Perlu disadari bahwa sumber validasi yang sehat berasal dari diri sendiri. Individu perlu membangun self-love, bersikap tenang dalam menghadapi masalah, serta membuktikan diri melalui tindakan, bukan mencari pengakuan. Inilah yang dikenal sebagai quiet confidence—kepercayaan diri yang matang, tidak bising, tetapi kuat dari dalam.
Membangunnya memang tidak mudah, tetapi dapat dimulai dengan mengenali diri sendiri, berhenti membandingkan diri dengan orang lain, serta belajar menghargai diri sendiri. Selain itu, penting untuk membangun hubungan yang otentik, bukan sekadar status.
Sejalan dengan itu, Stoikisme mengajarkan bahwa tidak semua hal berada dalam kendali kita, terutama penilaian orang lain. Yang bisa kita kendalikan adalah respons, sikap, dan keputusan kita sendiri. Dengan memahami hal ini, mahasiswa dapat lebih tenang menghadapi tekanan sosial tanpa harus terus-menerus mencari pengakuan. Fokus tidak lagi pada bagaimana terlihat, tetapi pada bagaimana menjalani proses dengan jujur.
Pada akhirnya, menjadi diri sendiri bukanlah kekurangan. Dalam dunia yang penuh tuntutan untuk terlihat sempurna, keberanian untuk merasa cukup dari dalam diri justru menjadi kekuatan yang paling nyata.*



