-0.3 C
New York
Sabtu, Maret 28, 2026

Buy now

spot_img

Merawat Kebangsaan Lewat Moderasi Beragama dan Budaya Lokal

AKTIVI.ID— Pemerintah Kota Palu memberikan apresiasi atas terselenggaranya Talkshow Kebangsaan dan Bedah Buku bertema Moderasi Beragama dan Pelestarian Kebudayaan yang digelar di Auditorium Wali Kota Palu, Senin (12/1/2026).

Kegiatan tersebut dinilai menjadi momentum tepat dalam merawat persatuan bangsa melalui pendekatan spiritual, literasi, serta penguatan kearifan budaya lokal.

Kegiatan ini dihadiri oleh perwakilan siswa berprestasi, aktivis, akademisi, guru, hingga tokoh pemuda se-Kota Palu. Kehadiran lintas generasi tersebut mencerminkan semangat kolektif dalam menjaga nilai-nilai kebangsaan di tengah keberagaman masyarakat.

Acara secara resmi dibuka oleh Asisten I Bidang Perekonomian dan Pembangunan Kota Palu, Rahmat Mustafa, S.STP., M.Si. Dalam sambutannya, Rahmat menyampaikan apresiasi kepada Komunitas Cendekia Society ID (CS.ID) selaku penggagas kegiatan, yang berkolaborasi dengan Yayasan Rumah Literasi Ceria dan Komunitas Jalan Jiwa.

“Pemerintah Kota Palu mengapresiasi penuh kegiatan ini karena sejalan dengan upaya membangun masyarakat yang moderat, berbudaya, dan berkarakter. Literasi dan dialog kebangsaan seperti ini sangat dibutuhkan, khususnya bagi generasi muda,” ujar Rahmat.

Salah satu agenda utama dalam kegiatan tersebut adalah bedah dua buku yang dinilai sarat nilai inspiratif terkait moderasi beragama dan pelestarian kearifan lokal. Buku Jejak Langkah di Tanah Toraja karya Abdurrahman, S.E., dibedah sebagai karya yang menggambarkan praktik moderasi beragama dalam kehidupan sosial masyarakat Toraja yang plural dan harmonis.

Sementara itu, buku Kamus Bergambar Bahasa Dampelas karya Opick Delian Alindra, S.H., dibahas sebagai wujud nyata komitmen pelestarian bahasa daerah dan kearifan lokal Sulawesi Tengah agar tetap lestari di tengah arus modernisasi.

Dalam pemaparannya, Opick Delian Alindra yang juga Founder Cendekia Society ID menegaskan bahwa kekuatan bangsa Indonesia terletak pada keseimbangan antara spiritualitas dan budaya. Menurutnya, moderasi beragama akan tumbuh kuat apabila nilai-nilai keagamaan berjalan seiring dengan pelestarian budaya tradisional.

“Pondasi menjaga persatuan dan kesatuan bangsa Indonesia adalah semangat spiritual yang hidup berdampingan dengan budaya tradisional. Ketika budaya dan agama berjalan selaras, di situlah moderasi beragama menemukan maknanya,” tegas Opick.

Selain Opick dan Abdurrahman, kegiatan ini turut menghadirkan Moh. Rivaldi, guru MAN 2 Kota Palu sekaligus Agen Moderat Milenial Sulawesi Tengah. Ia menyoroti peran strategis dunia pendidikan dalam menanamkan nilai toleransi, moderasi beragama, dan kebangsaan kepada peserta didik sejak dini.

Diskusi yang berlangsung hangat dan interaktif tersebut diharapkan mampu menumbuhkan kesadaran bersama bahwa moderasi beragama dan pelestarian budaya lokal bukan sekadar wacana, melainkan tanggung jawab kolektif seluruh elemen masyarakat dalam menjaga keutuhan bangsa serta masa depan Indonesia.

Related Articles

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Stay Connected

0FansSuka
0PengikutMengikuti
0PelangganBerlangganan
- Advertisement -spot_img

Latest Articles