-3.5 C
New York
Selasa, Februari 10, 2026

Buy now

spot_img

MENGGAPAI HIKMAH NISHFU SYA’BAN (II)

Oleh: Ahmadan B. Lamuri / Dosen Universitas Alkhairaat

Di ulasan sebelumnya, telah dijelaskan salah satu hikmah Nishfu Sya’ban yang perlu diperhatikan adalah perintah mendirikan shalat. Shalat juga menjadi media penting untuk mendekatkan diri kepada Allah swt. Diperintahkan mengisi malam Nishfu Sya’ban dengan shalat pada malamnya diikuti dengan informasi Allah menerima segala bentuk permohonan hamba-Nya.

Inti informasinya adalah malam Nishfu Sya’ban hendaknya dimanfaatkan dengan banyak beribadah dan bermohon apa saja yang hendak dimohonkan kepada-Nya. Dalam hadits dimaksud dijelaskan kalau permohonan itu akan dikabulkan-Nya. Permohonan inilah yang biasa disebut dengan “doa”. Pesan hadits menunjukkan pentingnya memperbanyak doa setelah ibadah shalat di malam Nishfu Sya’ban. Tulisan kedua ini fokus membicarakan masalah doa sebagai pintu menggapai hikmah Nishfu Sya’ban. Apa pentingnya doa?

Doa merupakan bagian dari zikir. Doa adalah permohonan, karena itulah setiap zikir mengandung makna doa. Setiap permohonan menampakkan ketundukkan dan kerendahan hati sang pemohon. Doa yang menurut para agawaman sebagai permohonan hamba kepada Allah swt agar memperoleh anugerah pemeliharaan dan pertolongan baik untuk si pemohon maupun untuk pihak lainnya (berdoa individu maupun jama’ah/kelompok). Permohonan harus lahir dari lubuk hati yang paling dalam disertai dengan ketundukan dan pengangungan kepada Allah swt.

Doa dalam pemahaman agama adalah salah satu amalan keagamaan ketika seseorang memanggil Tuhannya atau ingin mengajukan permohonan kepada-Nya yang dilakukan dengan penuh khidmat. Karena itu doa dianggap menduduki posisi penting dalam amalan keagamaan.

Walaupun dalam kenyataannya masih ada yang menganggap doa tidak penting dengan beberapa alasan: manusia telah dibekali segala macam potensi yang dengan potensi itu dapat melakukan apa yang dikehendakinya; berdoa menunjukkan tidak adanya kesadaran terhadap kemampuannya dan menafikan potensinya sendiri; Tuhan telah memberikan segala yang dibutuhkan manusia bahkan ketersediaan kebutuhan itu sebelum manusia mengetahuinya, jadi untuk apa lagi berdoa padahal Tuhan telah mengetahui seluruh apa yang dibutuhkan hamba-Nya; dan banyak berdoa hanya membuat berkembangnya sifat malas pada diri seseorang mengakibatkan hilangnya tanggungjawab memperbaiki nasib yang menimpanya.

Kelompok ini lupa pernayataan Allah dalam al-Qur’an surah Fatir: 15 “Wahai umat manusia, kalian semua membutuhkan Allah, sedangkan Allah Maha Kaya lagi Maha Terpuji.

Doa yang oleh Ahmad Farid dijelaskan sebagai wujud yang memperlihatkan kebutuhan dan hajat dari hamba yang serba memiliki kelemahan. Doa tidak lain hanyalah tertuju kepada Allah swt sebab hanya Dialah yang memperkenankan atau menolak seluruh permohonan. Dialah yang patut disembah sekaligus tempat untuk bermohon (Q.S. al-Fatihah: 5). Lebih lanjut Ahmad Farid menjelaskan bahwa doa ialah salah satu sebab diperkenankannya suatu permintaan. Doa ialah obat paling mujarab, doa ialah musuh bala’ (cobaan). Doa dapat mencegah turunnya cobaan, mengobati, menghilangkan, dan meringankannya kalau ditimpa. Karena itu, perlu diketahui fungsi doa itu:

Pertama, doa menunjukkan bahwa yang bermohon senantiasa membutuhkan Allah swt seperti makna ayat 15 pada surah Fatir di atas. Di sana ada takdir-Nya yang tidak diketahui manusia. Takdir telah ditentukan terhadap makhluk-Nya, namun takdir dimaksud menurut Quraish Shihab ada yang telah pasti tapi ada yang bersyarat. Siapa yang mengetahui kalau salah satu syarat dimaksud adalah “doa”.

Kedua, berdoa menunjukkan pelakunya tidak sombong di hadapan Tuhan-Nya; sebab hanya orang-orang sombonglah yang berpaling dari kehadiran Allah swt dalam hidupnya. Sehingga apabila ada seseorang yang tidak mau berdoa dan tidak meyakini doa sesuatu yang penting, berarti orang tersebut cenderung menilai dirinya sanggup mengatasi berbagai problem kehidupannya. Berdoa sikap rendah diri di hadapan-Nya

Ketiga, doa menjadi strategi membangun keseimbangan, kematangan, dan kedewasaan dalam menyikapi perbuatan Allah swt serta perbuatannya sendiri. Manusia memang memiliki potensi dan sumber daya yang dapat digunakan atau mendorong manusia kejalan yang baik atau buruk sesuai dengan kemampuan yang dimilikinya; namun kenyataan dalam hiruk pikuk kehidupan manusia, tidak sedikit yang gagal dalam meraih cita-citanya atau apa yang telah ditetapkannya sebagai tujuan hidupnya. Hal ini tidak lain adalah karena ada faktor di luar batas kemampuan yang ada padanya; dan faktor dimaksud adalah “Kehendak dan Kekuasaan Allah swt (takdirnya)”.

Doa akan menjadikan seseorang yang beriman akan merasa lega, puas hati, dan tenang karena merasa bersama Allah swt. Implikasinya dia akan merasakan ketenangan dan hal itu memberinya kekuatan batin dalam menghadapi penyakit dan sakitnya atau rasa takut dan kecemasannya. Terbantulah dalam penyembuhan dan pembentukan keseimbangan jiwa.

Doa juga termasuk bagian dari proses tazkiyatun nafs (media penyucian diri). Hanya orang-orang yang bersih hati dan dirinyalah yang merasa tenang dalam hidup ini. Di atas telah diuraikan bahwa dengan berdoa akan memberi ketenangan dan kekuatan batin bagi pelakunya.

Ahmad Farid mengatakan bahwa muara ketenangan itu adalah hati dan ketahuilah bahwa hati hanya akan merasa bahagia dengan ikhlas kepada Allah swt kecuali dengan selalu bermunajat, berzikir, dan berdoa kepada-Nya. “Yaitu orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tenteram dengan mengingat Allah swt. Ingatlah, hanya dengan banyak mengingat Allah-lah hati menjadi tenteram dan tenang (Q.S. Ra’d: 28). Doa bukan hanya sekedar menjadi media untuk menyampaikan keinginannya kepada Tuhan atau disebabkan karena merasa tergantung pada Tuhan; akan tetapi doa menjadi giat untuk mendekatkan diri kepada-Nya.

Oleh karena itu, agama telah menjadikan doa sebagai salah satu bentuk yang sangat jelas dari bentuk pengahambaan diri kepada Allah swt karena itu al-Qur’an menyebutkan Allah swt murka jika hamba-Nya tidak memohon kepadanya (Q.S. al-An’am: 42-43). Allah memerintahkan kepada manusia untuk berdoa dengan janji mengabulkannya dengan ketentuan manusia (yang bermohon) memperkenankan tuntunan-Nya.

Perhatikanlah beberapa bunyi riwayat ini yang menekankan pentingnya doa. Abu Hurairah meriwayatkan bahwasanya Nabi saw bersabda: “Tidak ada sesuatu yang lebih mulia di sisi Allah daripada doa” (H.R. at-Turmudzi, No. 3370). Demikian hadits dari Anas bin Malik bahwa Nabi saw bersabda: “doa itu adalah otaknya ibadah” (H.R. at-Turmudzi, No. 3371). Sumber hadits ini Adalah berdasarkan pada firman Allah swt yang terdapat pada beberapa ayat dalam al-Qur’an. Salah satunya yang terdapat pada surah Ghafir: 60.

Begitu penting dan besar nilainya doa, sehingga Rasulullah menganjurkan kepada umatnya: “Laisa syaiun akramu ‘indallah mina al-du’a (Tiada sesuatu yang mulia di sisi Allah melebihi doa)” (H.R. at-Turmudzi).  Berdoa merupakan bagian dari kebutuhan manusia. Sebab betapapun kuatnya manusia tetap menjadi makhluk lemah yang memiliki ketergantungan. Manusia memiliki naluri cemas dan mengharap.

Mengharap dan bersandar kepada sesama makhluk bagaimanapun kuasanya tidak akan membuahkan hasil. Karena itu, rujukan dan sandaran utama memohon segala yang dibutuhkannya adalah semata-mata kepada Allah swt. Nishfu Sya’ban menjadi salah satu waktu yang paling tepat untuk bermunajah, bermohon, kepada Allah, sebagaimana Dia telah membuka kesempatan seluas-luasnya pada malam tersebut. Wallahul A’lam!

 

Related Articles

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Stay Connected

0FansSuka
0PengikutMengikuti
0PelangganBerlangganan
- Advertisement -spot_img

Latest Articles