8.7 C
New York
Sabtu, Maret 28, 2026

Buy now

spot_img

MENGGAPAI HIKMAH NISHFU SYA’BAN (I)

Oleh: Ahmadan B. Lamuri / Dosen Universitas Alkhairaat Palu

Di bulan Rajab, umat Islam memperingati peristiwa super luar biasa yaitu Isra’ dan Mi’raj Nabi Muhammad saw. Peristiwa ini mengantarkan bulan Rajab memiliki keistimewaan khusus yang tidak dimiliki oleh bulan lainnya di tahun Hijriyah. Tentu bulan yang lain bukan berarti tidak ada, hanya saja berbeda-beda kemuliaannya. Contohnya bulan Sya’ban. Bulan ini memiliki keistimewaan khusus yang tidak ditemukan di bulan lainnya. Apa keistimewaan dan kemuliaannya? Yaitu malam yang disebut sebagai malam “Nishfu Sya’ban”.

Nishfu Sya’ban diperingati setiap malam tanggal 15 Sya’ban kalender Hijriyah. Umat Islam memperingatinya dengan ragam kegiatan yang lebih dominan adalah bertaqarrub kepada Allah swt. Kemuliaan khususnya berdasarkan sebuah hadits yang dikisahkan dari Sayyidina Ali bin Abi Thalib bahwasanya Rasulullah saw bersabda: “Apabila tiba malam Nishfu Sya’ban shalatlah pada malam harinya dan berpuasalah pada siangnya, sebab Allah swt turun ke langit dunia pada hari itu ketika matahari tenggelam. Kemudian Allah swt berfirman: adakah orang yang memohon ampun kepada-Ku? Aku ampuni dia; adakah orang yang memohon rezki kepada-Ku, Aku akan memberi rezki kepadanya; adakah orang yang mendapatkan cobaan? Aku akan memberinya keselamatan; dan seterusnya sampai terbit fajar” (H.R. Ibnu Majah, No. 1388).

Berangkat dari informasi hadits ini, maka salah satu yang perlu diperhatikan serta diamalkan adalah perintah shalat. Mengapa Shalat? Mahmud Syaltut menjelaskan bahwa shalat itu sesungguhnya merupakan bentuk perjalanan ke hadapan Tuhan. Shalat akan mengantarkan seseorang melepaskan dirinya dari seluruh urusan yang sifatnya duniawi dengan menumpahkan seluruh pengabdiannya kepada Allah swt. Melalui shalat seseorang diajarkan untuk terus mengingat Tuhannya yang memiliki segala keagungan, kebesaran, dan bahkan diajarkan untuk selalu bermunajat serta memohon perlindungan-Nya.

Hanya Dialah yang Maha Segala-galanya. Shalat mengajarkan kepada pelakunya untuk selalu sadar bahwa yang punya kekuasaan absolut hanya Allah swt; dan setiap manusia tidak memiliki kekuatan dan daya melainkan apa yang diberikan Allah kepadanya. Karena itu dengan shalat mendidiknya untuk merasa kecil di hadapan sang Khaliqnya. Shalat sesungguhnya menjadi perjalanan (Isra’) yang melepaskan duka nestapa, meringankan beban kehidupan duniawi yang tak pernah cukup sesuai dengan apa yang diinginkan. Shalat menjadi sarana mendekatkan diri kepada Allah swt.

Shalat yang diperintahkan di malam Nishfu Sya’ban dipastikan adalah shalat sunnah. Shalat malam dalam kajian fiqh dikenal ada beberapa jenisnya; diantaranya shalat ba’diyah setelah shalat ‘Isya, shalat hajat, shalat taubat, shalat istikharah, shalat tasbih, shalat tahajjud, dan shalat witir (shalat penutup shalat malam). Kesemuanya termasuk kategori sebagai shalat lail. Salah satu diantaranya telah disebutkan oleh Allah swt dalam al-Qur’an surah al-Isra’: 79, yaitu shalat tahajjud. Allah swt menegaskan moga saja dengan shalat tahajjud yang dilaksanakan itu menjadi wasilah diangkatnya pelakunya pada tempat terpuji.

Sayyid Sabiq menjelaskan begitu banyak ayat-ayat yang secara langsung memberikan informasi tentang keutamaan yang dimiliki oleh shalat malam itu. Misalnya pada surah al-Furqan: 63; as-Sajadah: 15; az-Zumar: 9; dan lainnya. Dari ayat-ayat dimaksud dapat dirangkum kandungan keutamaan shalat malam:

Pertama, sebagai salah satu media (sarana) untuk berusaha mendekatkan diri sedekat mungkin kepada Allah swt. Memang Allah swt sebenarnya telah menginformasikan kepada hamba-Nya bahwa Ia dekat dengan hambanya (Q.S. al-Baqarah: 186 dan Qaf: 16); tetapi apabila manusia berlumuran dosa dan maksiat, maka dekatnya Allah tidak dirasakannya. Cara membuka hijab kedekatannya Allah swt adalah dengan shalat. Shalatlah, sebab dengan shalat akan terhapus dosa.

Ketika dosa telah terhapus, maka peluang untuk terbukanya hijab kedekatan dengan Allah swt akan diperolehnya. “Tidaklah seseorang berbuat suatu dosa, lalu dia berwudhu dan menyempurnakan wudhunya lalu dia berdiri melaksanakan shalat dua rakaat dan mohon ampun kepada Allah swt melainkan Allah swt mengampuni dosanya” (H.R. Ibnu Majah, No. 1395). “Sungguh shalat itu dapat menghilangkan dosa sebagaimana air dapat menghilangkan kotoran” (H.R. Ibnu Majah, No. 1397). Implikasinya dari shalat adalah menjadikan bagi pelakunya terhindar dari segala perbuatan yang terlarang (Q.S. al-Ankabut: 45).

Kedua, shalat sebagai bukti pengabdian seorang hamba kepada Allah swt. Berkat pengabdian yang demikian itulah, Allah swt memberikan pujian kepadanya sebagai “hamba-hamba-Nya”. Mengapa demikian, karena ketika malam tiba dalam kesunyian dan kesepian; kebanyakan umat manusia tertidur lelap dan nyenyak atau lalai; mereka (yang disebut sebagai hamba itu oleh Allah) justru mengerjakan shalat malam bersujud dan berdiri menengadah diharibaan Allah sang Maha Perkasa; mereka tinggalkan kesenangan dan kenyamanan tidur (kenikmatan duniawi) mereka resapkan dengan sepenuh jiwa dan raganya serta ingin merasakan bagaimana nikmat dan tenteramnya bermunajat kepada Allah swt. Karena itulah iman mereka semakin bertambah kokoh, jiwa dan hati mereka semakin bersih dan suci, rahmat dan kasih sayang Allah akhirnya tercurahkan kepada mereka. Inilah makna yang dipetik dari ayat 63-64 Q.S. al-Furqan.

Oleh sebab itu, kehadiran malam Nishfu Sya’ban menjadi momentum bagi usaha peningkatan keimanan, nilai ibadah, serta membiasakan untuk bertaqarrub kepada Allah di saat malam dalam sunyi sepi. Membiasakan meninggalkan hiruk pikuk kemewahan serta kenikmatan duniawi demi menghambakan diri semata-mata-mata kepada sang Maha Penguasa atas seluruh makhluk-Nya.

Belajar memanfaatkan waktu yang tepat dimana Allah mendatanginya. Dengan seperti itu apapun yang dimintai akan diijabah oleh Allah swt. “Fadzkuruuni adzkurukum wasykuruu lii walaa takfuruun (Maka ingatlah kepada-Ku, Aku pun akan ingat kepadamu; dan bersyukurlah kepada-Ku dan janganlah kamu ingkar kepada-Ku” (Q.S. al-Baqarah: 152). Selanjutnya pada ayat 186 surah al-Baqarah “Wa idzaa sa’alaka ‘ibadii ‘annii fa innii qariib, ujiibu da’watad daa’i idza da’anii falyastijiibuu lii walyu’minuu bii la’allahum yarsyuduun (Apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu (Nabi Muhammad) tentang Aku, sesungguhnya Aku dekat, Aku mengabulkan permohonan orang yang berdoa apabila dia berdoa kepada-Ku, maka hendaklah mereka memenuhi perintah-Ku dan beriman kepada-Ku agar mereka selalu berada dalam kebenaran)”.

Saat yang paling tepat untuk melaksanakan ajakan Allah swt di mana kebenaran menjadi sesuatu yang sulit ditemukan, memperbanyak bertaqarrub kepada-Nya serta diikuti dengan munajah dan menghambakan diri semata-mata untuk-Nya merupakan solusi. Nishfu Sya’ban salah satu momentumnya. Ayo menggapai ragam hikmah di malam yang penuh kemuliaan dan keistimewaan. Wallahul A’lam!

Related Articles

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Stay Connected

0FansSuka
0PengikutMengikuti
0PelangganBerlangganan
- Advertisement -spot_img

Latest Articles