5.9 C
New York
Minggu, Februari 22, 2026

Buy now

spot_img

Mengawal Sembilan Program Berani: Uji Nyali dan Kesiapan Birokrasi Sulawesi Tengah

Oleh: Prof. Slamet Riadi Cante (* Penulis: Dosen Fisip Untad bidang ilmu  Kebijakan Publik )

KEPEMIMPINAN Gubernur Sulawesi Tengah, pasangan Anwar Hafied dan Reny Lamajido membawa angin segar bagi masyarakat Sulteng melalui visi strategis dengan program  “Sembilan  Berani” yang diusung bukan sekadar janji kampanye, melainkan sebuah kontrak sosial yang menuntut perombakan fundamental pada tubuh birokrasi pemerintahan  Namun, pertanyaan krusialnya adalah: sejauh mana mesin birokrasi pemerintah  memiliki kesiapan untuk  mengonversi visi politik tersebut menjadi realitas pelayanan publik dan kesejahteraan,  yang  dapat dirasakan oleh masyarakat hingga ke pelosok Bumi Tadulako?

Birokrasi  pemerintah diharapkan sebagai Mesin Penggerak, terhadap Visi “Sembilan Program Berani”—yang mencakup antara lain  sektor pendidikan gratis (Berani Cerdas), kesehatan gratis (Berani Sehat), hingga infrastruktur (Berani Lancar) —Program tersebut membutuhkan birokrasi yang lincah (agile). Salah satu  tantangannya adalah sinkronisasi regulasi. Misalnya bagaimana  Program  pendidikan dan kesehatan gratis memerlukan dasar hukum yang kuat agar tidak berbenturan dengan aturan fiskal pusat.

Selain itu kesiapan jajaran ASN untuk melakukan inovasi kebijakan tanpa melanggar tata kelola keuangan negara .

Digitalisasi: Tulang Punggung Efisiensi

Dalam era digital, implementasi Sembilan Program Berani mustahil berjalan optimal tanpa dukungan teknologi informasi. Keberanian untuk melakukan digitalisasi birokrasi bukan hanya soal pengadaan aplikasi, melainkan integrasi data. Misalnya, untuk mensukseskan program “Berani Berantas Kemiskinan”, diperlukan Single Identity Number yang akurat agar bantuan tidak salah sasaran.

Birokrasi Sulteng ditantang untuk meruntuhkan “ego sektoral” antar-dinas dan mulai membangun ekosistem data yang transparan dan akuntabel.

Tantangan Budaya Kerja dan Kapasitas SDM

Kesiapan teknis seringkali terganjal oleh hambatan kultural. Resistensi terhadap perubahan pola kerja manual ke digital masih menjadi momok di beberapa instansi.

Anwar-Reny memerlukan tim birokrasi yang memiliki mentalitas pelayan, bukan penguasa. Tantangan nyata bagi pemerintah provinsi ke depan adalah melakukan reskilling dan upskilling bagi ASN di daerah, untuk  memastikan bahwa standar pelayanan memiliki  kualitas yang sama di seluruh kabupaten kota.

 Kepemimpinan  Kolaboratif

Implementasi sembilan program ini memerlukan gaya kepemimpinan yang kolaboratif. Birokrasi tidak boleh lagi bekerja dalam sekat-sekat sempit. Kesiapan birokrasi diuji dari kemampuannya menjalin kemitraan dengan sektor swasta (Pemerintah-Swasta) dan masyarakat sipil.

Tanpa kolaborasi, beban anggaran daerah (APBD) akan terlalu berat untuk menanggung seluruh program tersebut.

Dari Visi Menuju Aksi

“Sembilan Program Berani” adalah sebuah harapan besar bagi kemajuan Sulawesi Tengah. Namun, efektivitas kepemimpinan Anwar Hafid dan Reny Lamajido sangat bergantung pada kapasitas dan komitmen  birokrasi  pemerintah.

Keberanian pemimpin harus dibarengi dengan kompetensi birokrat. Jika birokrasi pemerintah Sulteng mampu menjawab tantangan digitalisasi, memangkas inefisiensi, dan mengubah budaya kerja menjadi lebih proaktif, maka dapat diyakini bahwa optisme  Sembilan Program Berani akan tercatat sebagai tonggak sejarah baru  terhadap transformasi Sulawesi Tengah.

Sebaliknya, tanpa kesiapan birokrasi, visi besar ini hanya akan menjadi dokumen indah di atas meja kerja. Untuk itu, kini saatnya birokrasi pemerintahan  Sulteng harus dapat  membuktikan bahwa mereka benar-benar “Berani” untuk berubah. Semoga.

Related Articles

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Stay Connected

0FansSuka
0PengikutMengikuti
0PelangganBerlangganan
- Advertisement -spot_img

Latest Articles