-1 C
New York
Selasa, Februari 24, 2026

Buy now

spot_img

MEMPERKOKOH NILAI-NILAI KEARIFAN LOKAL MELALUI PEMBANGUNAN KEBUDAYAAN DI KOTA PALU

oleh: Arham, S.Pd., M.Si.*)

Kota  selalu  bergerak.  Ia tumbuh,  berubah,  dan  menyesuaikan  diri dengan  zaman.  Gedung- gedung baru menjulang, jalan diperlebar, pusat-pusat ekonomi bermunculan. Namun, di balik semua  itu,  ada  satu  pertanyaan  mendasar:  apakah  jiwa  kota  ikut  bertumbuh,  atau  justru tertinggal?

Sebagai ibu kota Sulawesi Tengah, Kota Palu sedang berada dalam fase penting sejarahnya.

Pascabencana 2018, kota ini tidak hanya membangun ulang infrastruktur, tetapi juga menata kembali harapan. Di tengah geliat pembangunan, penting untuk memastikan bahwa kemajuan tidak menggerus akar. Sebab kota yang kehilangan akar budaya ibarat pohon yang tumbuh tinggi tanpa pijakan yang kokoh.

Kota sebagai Ruang Ingatan

Palu bukan sekadar ruang geografis di pesisir Teluk Palu. Ia adalah ruang  ingatan kolektif. Ingatan tentang tradisi, bahasa, tarian, dan nilai yang diwariskan turun-temurun oleh masyarakat Kaili. Di sanalah terletak inti dari kearifan lokal, cara hidup yang telah teruji oleh waktu.

Tradisi seperti Tari Dero  bukan sekadar pertunjukan estetis. Ia adalah simbol kebersamaan, ruang sosial tempat relasi dibangun dalam lingkaran yang setara. Rumah adat Souraja bukan hanya bangunan kayu tua, melainkan representasi tata nilai dan struktur sosial. Upacara adat, cerita rakyat, hingga ungkapan-ungkapan lokal menyimpan pandangan hidup tentang harmoni antara manusia, alam, dan Sang Pencipta.

Nilai nosarara nosabatutu, kita semua bersaudara, kita semua bersatu, menjadi penopang etika sosial masyarakat. Dalam situasi krisis, nilai ini terbukti bukan sekadar retorika. Solidaritas yang muncul saat bencana mengguncang Palu memperlihatkan bahwa kebudayaan adalah energi sosial yang nyata.

Pembangunan yang Berjiwa

Selama ini, pembangunan kerap diidentikkan dengan angka pertumbuhan dan proyek fisik. Jalan yang  mulus,  jembatan  yang  kokoh,  dan  pusat  perbelanjaan  yang  megah  dianggap  simbol kemajuan.   Tentu   semua   itu   penting.   Namun   pembangunan   tanpa   kebudayaan   berisiko melahirkan kota yang modern secara fisik, tetapi rapuh secara identitas.

Pembangunan kebudayaan bukan berarti membekukan tradisi dalam museum. Ia justru menuntut keberanian untuk  menghidupkan  nilai-nilai  lokal  dalam kehidupan sehari-hari.  Ketika ruang publik dihiasi motif-motif lokal, ketika festival budaya dirancang sebagai ruang edukasi, ketika bahasa daerah diajarkan dengan bangga di sekolah, di situlah pembangunan berjiwa mulai terasa. Kebudayaan harus menjadi arus utama, bukan sekadar pelengkap seremoni. Pemerintah daerah dapat  merumuskan kebijakan yang  mengintegrasikan kebudayaan dalam perencanaan kota— mulai dari tata ruang hingga pengembangan ekonomi kreatif. Dukungan terhadap komunitas seni, dokumentasi tradisi lisan, serta revitalisasi bahasa daerah adalah langkah konkret yang dapat dilakukan.

Multikulturalisme sebagai Kenyataan Sosial

Palu  juga  adalah  kota  multikultural.  Selain  masyarakat  Kaili,  terdapat  komunitas Bugis, Makassar, Jawa, Bali, dan Tionghoa yang telah lama hidup berdampingan. Keberagaman ini adalah kekayaan yang harus dirawat.

Nilai lokal seperti nosarara nosabatutu justru menemukan maknanya dalam konteks keberagaman. Pembangunan kebudayaan tidak boleh eksklusif atau sempit, melainkan inklusif dan dialogis. Festival budaya lintas etnis, ruang dialog antar-komunitas, serta kolaborasi seni dapat menjadi jembatan yang memperkuat kohesi sosial.

Dalam masyarakat yang majemuk, kebudayaan berfungsi sebagai perekat. Ia menciptakan rasa memiliki bersama terhadap kota. Ketika setiap komunitas merasa diakui dan dihargai, maka partisipasi dalam pembangunan akan tumbuh secara alami.

Globalisasi dan Tantangan Identitas

Tidak  dapat  dipungkiri,  globalisasi  membawa  perubahan  gaya  hidup.  Individualisme dan konsumerisme kerap menggantikan semangat gotong royong. Media sosial membentuk selera dan pola pikir generasi muda dengan cepat.

Namun, globalisasi bukan untuk ditakuti. Ia dapat menjadi ruang kreatif untuk memperkenalkan kembali nilai lokal dalam format baru. Konten digital berbasis cerita rakyat, musik kontemporer dengan sentuhan tradisi, hingga film pendek tentang kehidupan adat dapat menjadi jembatan antara tradisi dan modernitas.

Pemerintah  kota  dan  komunitas  kreatif  dapat  berkolaborasi  membangun  ekosistem  budaya digital. Inkubator kreatif, pelatihan produksi konten budaya, dan dukungan bagi pelaku seni muda akan memperkuat posisi kebudayaan lokal di tengah arus global.

Kebudayaan, Ekonomi, dan Kesejahteraan

Pembangunan kebudayaan juga memiliki dimensi ekonomi yang tidak bisa diabaikan. Industri kreatif berbasis budaya lokal berpotensi menciptakan lapangan kerja dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat. Kerajinan tangan, kuliner tradisional, busana etnik, hingga seni pertunjukan dapat dikembangkan menjadi produk unggulan kota.

Kawasan  Teluk  Palu  dapat  dikemas  sebagai  destinasi  wisata  budaya  yang  menghadirkan pengalaman  autentik:  pertunjukan Tari Dero  di ruang  terbuka,  pameran kriya  lokal,  hingga festival kuliner tradisional. Dengan pengelolaan yang profesional dan partisipatif, kebudayaan tidak hanya menjadi identitas, tetapi juga sumber ekonomi yang berkelanjutan.

Namun demikian, komersialisasi budaya harus tetap berpijak pada etika. Nilai sakral dan filosofi adat tidak boleh direduksi menjadi sekadar komoditas pasar. Di sinilah peran lembaga adat dan komunitas budaya menjadi penting sebagai penjaga otentisitas.

Peran Komunitas dan Generasi Muda

Pembangunan kebudayaan tidak akan berhasil tanpa partisipasi aktif masyarakat. Komunitas seni, pegiat literasi, sanggar tari, hingga kelompok pemuda memiliki kontribusi besar dalam menghidupkan  ruang  budaya.  Mereka  adalah  agen-agen  kreatif  yang  menjembatani  tradisi dengan inovasi.

Generasi  muda  Palu  perlu  diberi  ruang  dan  kepercayaan  untuk  berkreasi.  Alih-alih  hanya menjadi penonton, mereka harus dilibatkan sebagai pelaku. Program residensi seni, lomba karya budaya digital, hingga diskusi publik tentang sejarah lokal dapat menjadi ruang pembelajaran yang inspiratif.

Ketika anak muda merasa bangga menyebut dirinya bagian dari budaya Kaili dan Palu, di situlah keberhasilan pembangunan kebudayaan mulai terlihat. Identitas tidak lagi menjadi beban masa lalu, melainkan sumber energi untuk masa depan.

Infrastruktur Budaya dan Kebijakan Berkelanjutan

Selain program dan festival, Palu  memerlukan infrastruktur budaya yang  memadai. Gedung kesenian  yang  representatif,  pusat  dokumentasi budaya,  museum lokal yang  interaktif,  serta taman budaya yang hidup akan menjadi simpul pertemuan ide dan kreativitas. Infrastruktur ini bukan sekadar bangunan, melainkan ruang tumbuhnya imajinasi kolektif.

Pemerintah daerah  juga perlu  menyusun peta jalan kebudayaan  yang  jelas,  lengkap  dengan indikator  capaian dan dukungan anggaran  yang  konsisten.  Tanpa komitmen kebijakan  yang berkelanjutan, pembangunan kebudayaan akan terjebak pada program seremonial tahunan. Sinergi antara pemerintah, akademisi, pelaku usaha, dan komunitas menjadi kunci. Dunia usaha dapat  dilibatkan  melalui  skema  tanggung  jawab  sosial  perusahaan  (CSR)  yang  mendukung kegiatan  seni  dan  pelestarian  budaya.  Kolaborasi  lintas  sektor  akan  memperluas  dampak sekaligus memperkuat rasa kepemilikan bersama.

Kebudayaan dan Etika Lingkungan

Kearifan  lokal  masyarakat  Kaili  juga  mengajarkan  hubungan  yang  harmonis  dengan  alam. Dalam  konteks  kota  pesisir  seperti  Palu,   nilai  ini  sangat   relevan.   Pembangunan  yang mengabaikan keseimbangan ekologis justru bertentangan dengan filosofi hidup lokal. Menghidupkan  kembali  nilai-nilai  ekologis  dalam  budaya  berarti  menanamkan  kesadaran lingkungan sebagai bagian dari identitas. Festival budaya dapat dirancang ramah lingkungan, kampanye  publik  mengangkat  pesan  adat  tentang  menjaga  alam,  dan  kurikulum  sekolah memasukkan perspektif kearifan lokal dalam pendidikan lingkungan.

Dengan  demikian,  pembangunan  kebudayaan  tidak  hanya  memperkuat  identitas, tetapi  juga mendukung keberlanjutan lingkungan kota.

Menatap Masa Depan dengan Keyakinan

Memperkokoh nilai-nilai kearifan lokal bukanlah nostalgia romantik terhadap masa silam. Ia adalah strategi kebudayaan untuk menghadapi masa depan yang penuh ketidakpastian. Kota yang memiliki identitas kuat akan lebih percaya diri dalam berinteraksi dengan dunia luar.

Palu dapat menjadi contoh bagaimana kota di kawasan timur Indonesia membangun modernitas tanpa kehilangan akar. Modern, tetapi berkarakter. Terbuka, tetapi berprinsip. Dinamis, tetapi tetap berlandaskan nilai kebersamaan.

Pada akhirnya, pembangunan kebudayaan adalah ikhtiar menjaga jiwa kota agar tetap hidup di tengah perubahan zaman. Ketika nilai nosarara nosabatutu benar-benar menjadi napas bersama, ketika  tradisi tidak  sekadar  dipentaskan  tetapi dihayati,  maka  Palu  bukan  hanya  kota  yang bangkit, melainkan kota yang berdaulat atas identitasnya sendiri.

Dan di sanalah kita menemukan makna sejati pembangunan: bukan hanya membangun ruang, tetapi merawat ruh; bukan sekadar mengejar kemajuan, tetapi memastikan bahwa setiap langkah maju tetap berpijak pada tanah budaya sendiri.

Peran Strategis Dinas Kebudayaan Kota Palu

Pembangunan kebudayaan di Kota Palu membutuhkan peran yang lebih fokus dan strategis dari Dinas Kebudayaan. Lembaga ini tidak cukup hanya menjadi penyelenggara kegiatan seremonial, tetapi harus bertransformasi menjadi penggerak utama arah pembangunan budaya kota.

Pertama, Dinas Kebudayaan perlu menyusun peta jalan kebudayaan yang jelas dan berkelanjutan agar  setiap  program  memiliki arah,  indikator,  dan  dampak  jangka  panjang.  Kedua,  penting membangun sistem dokumentasi dan basis data budaya untuk melestarikan tradisi lisan, seni, dan nilai adat yang terancam hilang. Ketiga, dinas harus menjadi penghubung antara pemerintah,

komunitas  seni,  akademisi,  dan  pelaku  usaha  dalam  membangun  ekosistem  budaya yang kolaboratif.

Selain itu, penguatan kapasitas pelaku budaya dan dukungan anggaran yang memadai sangat diperlukan agar  kebudayaan tidak  hanya  lestari,  tetapi juga  berdaya secara ekonomi.  Dinas berperan  menjaga  etika  pemanfaatan  budaya  agar  tidak  tereduksi  oleh kepentingan komersial.

Dengan visi yang kuat dan dukungan kebijakan yang konsisten, Dinas Kebudayaan Kota Palu dapat  menjadi  arsitek  peradaban  kota  menjadikan  nilai-nilai  kearifan  lokal  sebagai  fondasi pembangunan yang berkelanjutan dan berkarakter.

(*Penulis adalah Kepala Bidang Kebudayaan Dikbud Kota Palu)

Related Articles

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Stay Connected

0FansSuka
0PengikutMengikuti
0PelangganBerlangganan
- Advertisement -spot_img

Latest Articles