10.1 C
New York
Senin, Maret 9, 2026

Buy now

spot_img

BEM FAI Unismuh Palu Gelar Kajian Ramadan Bahas Makna Jihad dalam Konteks Modern

AKTIVI.ID– Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Fakultas Agama Islam (FAI) Universitas Muhammadiyah (Unismuh) Palu menggelar kegiatan kajian Ramadan yang dirangkaikan dengan buka puasa bersama pada Sabtu (7/3/2026). Kegiatan tersebut berlangsung di Aula Fakultas Kedokteran Unismuh Palu dan mengangkat tema “Jihad dalam Konteks Modern: Meluruskan Narasi di Tengah Konflik Timur Tengah.”

Kegiatan ini merupakan hasil kolaborasi antara Menteri Agama BEM Universitas Muhammadiyah Palu, BEM FAI, serta sejumlah himpunan mahasiswa di lingkungan Fakultas Agama Islam Unismuh Palu. Kegiatan tersebut dihadiri oleh mahasiswa yang antusias mengikuti kajian hingga menjelang waktu berbuka puasa.

Acara diawali dengan pengantar materi oleh Menteri Agama BEM Universitas Muhammadiyah Palu, Reza, yang bertindak sebagai pemantik diskusi. Selanjutnya, materi utama disampaikan oleh Wakil Dekan III FAI Unismuh Palu, Dr. Abd. Mufarik A. Marhum, S.Pd.I., M.Pd, sementara jalannya diskusi dipandu oleh Aisyah Rahma selaku moderator.

Dalam pemaparannya, Dr. Abd. Mufarik menjelaskan bahwa istilah jihad kerap disalahpahami oleh sebagian masyarakat, terutama ketika dikaitkan dengan konflik di berbagai wilayah dunia, termasuk di Timur Tengah. Menurutnya, secara bahasa kata jihad berasal dari bahasa Arab jahada–yujahidu–jihadan yang berarti bersungguh-sungguh, mengerahkan seluruh kemampuan, serta berjuang dengan usaha maksimal.

“Jihad tidak selalu identik dengan perang. Maknanya jauh lebih luas, yakni segala bentuk usaha serius dalam menegakkan kebaikan dan kebenaran,” jelasnya di hadapan para peserta kajian.

Ia menambahkan, dalam pengertian syariat, para ulama mendefinisikan jihad sebagai upaya mengerahkan seluruh kemampuan untuk menegakkan agama Allah serta melawan kebatilan. Oleh karena itu, jihad dapat mencakup berbagai bentuk perjuangan, seperti perjuangan spiritual, sosial, intelektual, hingga perjuangan fisik dalam kondisi tertentu.

Dr. Abd. Mufarik juga mengutip pandangan ulama besar, Imam Ibn Taymiyyah, yang menjelaskan bahwa jihad mencakup segala bentuk usaha dalam menegakkan agama, baik dengan hati, lisan, maupun tindakan. Menurutnya, jihad tidak selalu berarti peperangan, melainkan juga usaha menyebarkan kebenaran dan menolak kezaliman.

Lebih lanjut, ia mengajak mahasiswa untuk memahami konflik yang terjadi di Timur Tengah dengan pendekatan yang lebih bijaksana dan tidak terburu-buru dalam memberikan penilaian.

“Jika dikaitkan dengan kondisi Timur Tengah saat ini, kita tidak boleh tergesa-gesa dalam menghakimi. Kita harus lebih teliti dan berhati-hati dalam melihat persoalan yang terjadi,” ujarnya.

Menurutnya, konflik yang terjadi di kawasan tersebut perlu dilihat dari sudut pandang kemanusiaan universal. Prinsip menjaga nyawa, kata dia, harus menjadi prioritas dibandingkan dengan menghilangkan nyawa.

Ia menjelaskan bahwa dalam konteks tertentu, jihad dapat dimaknai sebagai upaya mempertahankan diri dari penindasan atau ancaman. Dalam kajian fiqh, hal ini dikenal sebagai jihad defensif, yakni upaya mempertahankan kehormatan diri, melindungi masyarakat, serta menjaga keamanan dan kedaulatan suatu wilayah dari agresi.

“Sebagaimana dijelaskan oleh Ibn Taymiyyah, jihad defensif menjadi kewajiban ketika umat Islam diserang. Mempertahankan diri dari agresi merupakan bentuk keadilan dan bertujuan menghentikan penindasan,” jelasnya.

Ia menegaskan bahwa konsep tersebut menunjukkan bahwa dalam syariat Islam, perang bukanlah tujuan utama, melainkan langkah terakhir untuk mempertahankan keadilan dan keamanan.

Dalam kesempatan tersebut, Dr. Abd. Mufarik juga menyinggung konflik yang terjadi di wilayah Gaza Strip dan Palestina yang saat ini menjadi perhatian dunia. Ia mengajak mahasiswa untuk menyikapi konflik tersebut secara kritis, proporsional, dan tetap berlandaskan nilai kemanusiaan.

Menurutnya, mahasiswa sebagai bagian dari komunitas intelektual memiliki tanggung jawab moral dan akademik untuk merespons berbagai isu global dengan pendekatan ilmiah dan rasional.

“Sikap mahasiswa tidak hanya didasarkan pada emosi, tetapi juga harus berlandaskan pengetahuan, etika, dan analisis ilmiah,” ungkapnya.

Ia juga mengingatkan bahwa konflik internasional seringkali diiringi dengan framing media serta propaganda dari berbagai pihak. Oleh karena itu, mahasiswa perlu meningkatkan kemampuan literasi media agar tidak mudah terjebak dalam informasi yang menyesatkan.

Mahasiswa, lanjutnya, perlu membiasakan diri untuk memverifikasi informasi, membandingkan berbagai sumber media, serta memahami konteks sejarah dan politik dari suatu konflik sebelum mengambil kesimpulan.

“Kemampuan literasi media sangat penting agar kita tidak mudah terjebak dalam narasi yang menyederhanakan konflik yang sebenarnya sangat kompleks,” tegasnya.

Melalui kegiatan kajian Ramadan ini, panitia berharap mahasiswa dapat memperoleh pemahaman yang lebih komprehensif mengenai konsep jihad dalam Islam, sekaligus mampu menyikapi dinamika konflik global dengan perspektif yang lebih objektif, kritis, dan berlandaskan nilai kemanusiaan.

Kegiatan kemudian ditutup dengan sesi diskusi interaktif antara pemateri dan peserta kajian yang berlangsung hangat. Setelah sesi diskusi berakhir, kegiatan dilanjutkan dengan buka puasa bersama.*

Related Articles

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Stay Connected

0FansSuka
0PengikutMengikuti
0PelangganBerlangganan
- Advertisement -spot_img

Latest Articles