Oleh: Umar Hannase
(Ketua PW Pemuda Muhammadiyah Sulteng/Dosen FEB Unismuh Palu)
Di era kontemporer ini, kita sedang menyaksikan fenomena “inflasi akademik” yang luar biasa. Nama pejabat publik, pemimpin organisasi, hingga politisi kian memanjang, sesak oleh deretan gelar mulai dari sarjana, magister, doktor, hingga beragam gelar profesi. Mendapatkan gelar kini terasa lebih mudah diakses dibandingkan beberapa dekade lalu.
Secara kasatmata, ini tampak sebagai kemajuan intelektual. Namun, jika ditelisik lebih dalam, muncul sebuah anomali yang menggelisahkan. Deretan gelar yang semakin panjang tidak selalu berbanding lurus dengan kualitas kepemimpinan dan kebijaksanaan dalam mengambil keputusan. Kita berada dalam situasi di mana simbol pendidikan (gelar) dipuja berlebihan, sementara esensi pendidikan (karakter dan kebijaksanaan) sering kali tercecer di ruang-ruang kelas yang kosong akan makna.
Orang Bergelar vs. Orang Berilmu
Fenomena ini memunculkan dikotomi tajam antara “Orang Bergelar” dan “Orang Berilmu”. Keduanya terdengar serupa, namun dalam praktiknya sering kali berseberangan. Banyak orang terjebak pada mentalitas credentialism (kepercayaan berlebihan pada ijazah atau sertifikat). Bagi kelompok ini, gelar sering kali tereduksi menjadi sekadar kosmetik untuk menutupi ketidakmampuan manajerial, syarat administratif naik pangkat, atau validasi sosial semata. Akibatnya, muncul arogansi intelektual di mana gelar dijadikan benteng pertahanan, mereka enggan belajar dari orang lain yang status akademiknya lebih rendah.
Sebaliknya, “Orang Berilmu” memahami bahwa schooling (bersekolah) tidak sama dengan learning (belajar). Ijazah hanyalah tanda pernah sekolah, tetapi kompetensi adalah bukti pernah berpikir. Orang berilmu memiliki filosofi padi yang merunduk, semakin tinggi ilmunya, semakin sadar akan ketidaktahuannya, dan fokusnya bukan pada kartu nama, melainkan pada solusi atas masalah nyata.
Ketika Kemauan Melampaui Kemampuan
Dampak paling fatal dari fenomena “banjir gelar, kemarau ilmu” ini terlihat jelas dalam ranah leadership. Saat ini, kita sering melihat pemimpin yang naik ke puncak hanya bermodalkan komitmen (kemauan) namun minim kompetensi (kemampuan). Banyak narasi motivasi yang bergaung: “Yang penting punya niat baik dan kemauan keras, sisanya bisa dipelajari sambil jalan.” Kalimat ini terdengar inspiratif, namun berbahaya jika diterapkan pada posisi strategis tanpa batas waktu yang jelas.
Pemimpin yang tidak berilmu (hanya bergelar) sering kali tidak mampu melihat root cause (akar masalah). Mereka sibuk membenahi gejala, bukan penyakitnya. Akibatnya, organisasi berjalan di tempat dan bawahan yang kompeten menjadi frustrasi. Respek bawahan kepada atasan di era ini tidak lagi ditentukan oleh SK Jabatan atau gelar akademik semata. Respek lahir dari kompetensi teknis dan kecerdasan emosional. Jika pemimpin tidak bisa memberikan arahan yang jelas atau solusi cerdas, wibawa kepemimpinannya akan runtuh dan menyisakan kepatuhan semu karena takut pada otoritas.
Memimpin dengan modal semangat tanpa bekal ilmu ibarat seorang pilot yang sangat ingin menerbangkan pesawat tapi tidak paham navigasi. Semangatnya tinggi, namun risiko kecelakaannya fatal. Keputusan diambil hanya berdasarkan intuisi atau trial and error, bukan berbasis data atau analisis mendalam. Gelar memang mampu mengundang kita masuk ke sebuah ruang, tetapi hanya kompetensi yang membuat kita layak duduk di kursi tersebut.
Hilangnya Adab dan Pesan Kaum Cendekia
Cendekiawan muslim Prof. Syed Muhammad Naquib Al-Attas mendiagnosis fenomena ini sebagai the loss of adab. Ketika adab hilang, manusia tidak mampu meletakkan sesuatu pada tempatnya, yang akhirnya memunculkan pemimpin palsu yang merusak sendi-sendi kehidupan. Sebagaimana Al-Attas berpendapat bahwa:
“Kekeliruan dan kesalahan dalam ilmu pengetahuan… mengakibatkan hilangnya adab. Keadaan ini memunculkan pemimpin-pemimpin palsu dalam segala bidang, yang bukan saja merusakkan ilmu, tetapi juga merusakkan kehidupan manusia.”
Islam sejak lama mengingatkan, di antaranya melalui nasihat bijak dari Imam Al-Ghazali dalam kitabnya Ayyuhal Walad bahwa “ilmu tanpa amal adalah gila, dan amal tanpa ilmu adalah sia-sia”. Imam Al-Ghazali juga memperingatkan bahwa ilmu semata tidak akan menjauhkan seseorang dari maksiat jika tidak menyentuh substansi batin. Senada dengan itu, pemikir Islam dan tokoh Muhammadiyah Buya Hamka dalam Falsafah Hidup menegaskan:
“Kecantikan yang abadi terletak pada keelokan adab dan ketinggian ilmu seseorang, bukan pada wajah dan pakaiannya.”
Jika ditarik ke konteks kepemimpinan, “pakaian” itu adalah termasuk gelar-gelar dan jabatan mentereng. Pemimpin sejati tidak bersembunyi di balik titel akademik. Kepemimpinan dalam Islam adalah khidmah (pelayanan), bukan sekadar kebanggaan status.
Filosofi Cermin Sebagai Refleksi Diri
Tulisan ini tidak bermaksud merendahkan pencapaian akademik. Menuntut ilmu hingga jenjang tertinggi adalah fardhu dan kemuliaan dalam Islam. Namun, kita harus berhenti menormalisasi anggapan bahwa gelar adalah segalanya. Bukan pula kritik yang dilontarkan dari menara gading kesempurnaan, melainkan sebuah cermin yang saya hadapkan ke wajah sendiri. Saya menyadari sepenuhnya bahwa saya pun masihlah seorang pembelajar yang jauh dari kata selesai. Masih banyak ruang kosong dalam kompetensi diri yang harus diisi, dan masih panjang perjalanan untuk benar-benar menyeimbangkan antara amanah yang diemban dengan kapasitas yang dimiliki.
Bagi para pemimpin, komitmen tanpa kompetensi adalah kenaifan, sedangkan kompetensi tanpa komitmen adalah kelalaian. Jadilah orang berilmu, maka gelar akan menjadi penghias yang pantas, bukan topeng yang menipu. Karena di hadapan Tuhan dan sejarah, yang dicatat bukanlah seberapa panjang gelar di batu nisan, melainkan seberapa besar manfaat ilmu tersebut bagi kemanusiaan. Sudah saatnya kita berhenti memuja “kulit” (gelar) dan mulai menghargai “isi” (kompetensi). Masyarakat harus cerdas membedakan antara “kaum terpelajar” (yang hanya bersekolah) dengan “kaum intelektual” (yang menggunakan ilmunya untuk kemaslahatan).*



