14.7 C
New York
Selasa, Oktober 27, 2026

Buy now

spot_img

Kesepian di Tengah Keramaian, Potret Kelam Generasi Sekuler

Oleh: Magvira, S.Pd : Praktisi Pendidikan Kota Palu

Di tengah gemerlap kota, kampus yang ramai, dan linimasa media sosial yang tak pernah sepi, banyak anak muda justru merasa sendirian. Mereka tampak baik-baik saja, berprestasi, bahkan berkecukupan secara materi, tetapi di dalam jiwanya menyimpan luka yang tak terlihat. Ketika luka itu tak lagi tertanggungkan, sebagian memilih jalan yang paling tragis. Fenomena ini bukan sekadar persoalan pribadi, melainkan potret kelam sebuah generasi yang tumbuh dalam cengkeraman sistem sekuler.

Fakta: Krisis Jiwa Generasi Muda

Sepekan terakhir, dua peristiwa memilukan kembali mengetuk nurani publik. Pertama, seorang mahasiswa Fakultas Kedokteran Universitas Brawijaya berinisial RR (19) diduga melakukan percobaan bunuh diri di lingkungan kampus pada Kamis (10/9/2026). Mahasiswa kedokteran, yang kerap dipandang sebagai sosok cerdas dengan masa depan cerah, ternyata tak luput dari tekanan yang menghimpit jiwa.

Kedua, seorang pria berinisial FS (30) ditemukan meninggal dunia diduga bunuh diri di kawasan Gelora Bung Karno, Jakarta Pusat, pada Minggu (6/9/2026) dini hari. Sebelumnya, FS sempat mengunggah pesan perpisahan dan mendonasikan Rp40 juta kepada komunitas kesehatan mental. Ironisnya, ia peduli pada persoalan kesehatan mental orang lain, namun tak menemukan pertolongan bagi dirinya sendiri.

Data layanan hotline pencegahan bunuh diri Healing 119.id juga menunjukkan bahwa klien didominasi kelompok usia 21 hingga 30 tahun. Artinya, krisis kesehatan mental paling banyak menimpa generasi muda, generasi yang semestinya menjadi harapan dan tulang punggung peradaban.

Gambaran yang lebih luas tampak dari data Kementerian Kesehatan. Hasil Cek Kesehatan Gratis mencatat bahwa gejala depresi dan kecemasan pada anak dan remaja lima kali lebih besar dibandingkan kelompok usia dewasa dan lansia. Sebanyak 363.326 pelajar, atau 4,8 persen dari mereka yang diperiksa, mengalami gejala depresi. Skrining terbaru per Juli 2026 bahkan menemukan gejala depresi sudah mulai muncul sejak usia sekolah menengah pertama dan meningkat pada kelompok sekolah menengah atas. Survei Kesehatan Mental Remaja Nasional (I-NAMHS) 2022 sebelumnya juga menunjukkan satu dari tiga remaja Indonesia, atau 34,9 persen, mengalami setidaknya satu masalah kesehatan mental.

Sulawesi Tengah pun tidak berada di luar lingkaran persoalan ini. Pada 6 April 2026, seorang pria berusia 26 tahun ditemukan meninggal dunia di kediamannya di Kelurahan Petobo, Kecamatan Palu Selatan, Kota Palu, dan diduga mengakhiri hidupnya. Aparat menyebut dugaan penyebabnya adalah tekanan mental atau depresi yang berkaitan dengan persoalan rumah tangga. Wilayah yang pernah dihantam gempa, tsunami, dan likuefaksi pada 2018 ini semestinya menjadi pengingat betapa pentingnya kekuatan jiwa dan solidaritas sosial. Namun tekanan hidup dan keterbatasan layanan pendampingan psikologis di daerah masih menjadi tantangan tersendiri. Para peneliti pun mengingatkan bahwa angka bunuh diri di Indonesia kemungkinan besar lebih tinggi dari yang tercatat karena banyak kasus tidak dilaporkan.

Analisis: Buah Pahit Sekularisme-Kapitalisme

Pertama, sekularisme mencabut akidah dari kehidupan. Agama dipinggirkan hanya menjadi urusan ritual pribadi, sementara kehidupan diatur oleh standar materi. Akibatnya, generasi kehilangan pegangan saat menghadapi tekanan hidup. Tanpa iman sebagai benteng, kesulitan terasa demikian berat dan mudah berujung pada keputusasaan.

Kedua, kapitalisme melahirkan masyarakat yang individualistik. Setiap orang dituntut berjuang sendiri tanpa ikatan masyarakat yang kuat. Budaya positivisme yang menuhankan pencapaian, ditambah obsesi mengejar sukses secara individual, membuat manusia menjadi asosial. Nilai seseorang diukur dari prestasi, jabatan, dan kepemilikan, bukan dari kebermaknaan hidup dan kedekatannya dengan sesama. Kesepian pun merajalela, bahkan di antara mereka yang secara materi berkecukupan. Media sosial yang seolah menghubungkan justru menambah rasa terasing ketika setiap orang sibuk memoles citra keberhasilan dan menyembunyikan kerapuhannya.

Ketiga, semua itu adalah buah dari negara yang menerapkan sekularisme-kapitalisme. Negara turut membentuk individu yang rapuh dan masyarakat yang individualistik melalui penerapan sistem pendidikan sekuler yang minim penanaman akidah dan sistem ekonomi kapitalisme yang menciptakan tekanan hidup, persaingan tak sehat, dan kesenjangan. Karena itu, persoalan ini tidak cukup dipandang sebagai masalah kesehatan mental individu, tetapi sebagai persoalan sistemik.

Konstruksi: Islam Membangun Jiwa dan Masyarakat

Pertama, Islam membangun akidah sebagai benteng jiwa sejak dini. Seorang Muslim diajarkan bahwa setiap kesulitan adalah ujian dari Allah, bahwa Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai kesanggupannya (QS Al-Baqarah: 286), serta bahwa tidak layak berputus asa dari rahmat-Nya (QS Yusuf: 87). Islam juga tegas mengharamkan bunuh diri (QS An-Nisa: 29). Keyakinan inilah yang menjadi penahan terkuat bagi seorang Muslim dari keputusasaan.

Kedua, Islam membangun ikatan yang kuat antara keluarga dan masyarakat berdasarkan akidah. Rasulullah saw. menggambarkan kaum mukmin sebagai satu bangunan yang saling menguatkan. Dengan ikatan ini, tidak ada seorang pun yang dibiarkan menanggung beban hidupnya sendirian dan merasa kesepian. Tetangga peduli, keluarga saling menopang, dan masyarakat menjadi ruang aman bagi setiap orang yang sedang berjuang.

Ketiga, semua itu hanya dapat terwujud secara utuh ketika negara Khilafah menerapkan sistem Islam secara kaffah. Negara menerapkan sistem pendidikan berbasis akidah dan sistem ekonomi Islam yang menjamin kesejahteraan seluruh rakyat. Dari sanalah lahir individu yang kokoh dan masyarakat yang saling peduli, bukan generasi yang rapuh dan kesepian.

Penutup

Kesepian di tengah keramaian adalah alarm keras bahwa ada yang keliru dalam cara kita mengelola kehidupan. Selama sekularisme-kapitalisme masih menjadi landasan, generasi muda akan terus dihadapkan pada tekanan tanpa pegangan dan keramaian tanpa kebersamaan. Sudah saatnya kita kembali kepada Islam sebagai solusi menyeluruh, sekaligus menjadikan keluarga, sekolah, dan masyarakat sebagai tempat yang benar-benar peduli. Bagi siapa pun yang merasa terhimpit, jangan menyimpannya sendirian. Berbicaralah dengan keluarga, sahabat, tokoh agama yang dipercaya, atau tenaga profesional kesehatan jiwa.

Artikulli paraprak

Related Articles

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Stay Connected

0FansSuka
0PengikutMengikuti
0PelangganBerlangganan
- Advertisement -spot_img

Latest Articles