23.6 C
New York
Senin, September 14, 2026

Buy now

spot_img

PP Muhammadiyah Luncurkan Logo Tanwir dan Milad ke-114 Bermotif Daun Kelor

AKTIVI.ID– Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah secara resmi meluncurkan logo Tanwir dan Milad ke-114 Muhammadiyah di Kantor PP Muhammadiyah, Yogyakarta, Sabtu (12/9/2026) pagi.

Logo yang diluncurkan mengusung motif daun kelor yang dipilih sebagai simbol karena tanaman tersebut tumbuh subur di berbagai wilayah Indonesia, termasuk Kota Palu, Sulawesi Tengah, yang akan menjadi lokasi penyelenggaraan Tanwir Muhammadiyah 2026.

Ketua Umum PP Muhammadiyah, Prof. Dr. K.H. Haedar Nashir, M.Si., mengatakan logo Tanwir dan Milad ke-114 Muhammadiyah menampilkan corak postmodern dengan simbol utama daun kelor.

Menurut Haedar, logo tersebut tidak sekadar menjadi identitas visual sebuah kegiatan, tetapi juga mengandung nilai, gagasan, dan filosofi yang merepresentasikan perjalanan serta karakter gerakan Muhammadiyah.

“Dalam sebuah simbol, estetika tidak dapat dipisahkan dari nilai dan makna yang terkandung di dalamnya. Karena itu, logo tidak semestinya hanya dipandang sebagai ornamen visual, tetapi juga sebagai medium untuk memahami gagasan yang lebih luas,” ujar Haedar dalam acara peluncuran tersebut.

Ia menjelaskan, pemilihan daun kelor memiliki sejumlah makna yang dinilai relevan dengan karakter dan arah gerakan Muhammadiyah.

Daun kelor dikenal sebagai miracle tree atau pohon ajaib karena memiliki banyak manfaat bagi kehidupan. Filosofi tersebut kemudian diterjemahkan ke dalam sejumlah nilai yang menjadi pesan dalam pelaksanaan Tanwir dan Milad ke-114 Muhammadiyah.

Pertama, kata Haedar, daun kelor merepresentasikan kesederhanaan dan ketangguhan. Pohon kelor merupakan tanaman yang sederhana, tetapi mampu tumbuh di berbagai kondisi dan tempat tanpa membutuhkan perawatan yang rumit.

Karakter tersebut dinilai sejalan dengan semangat gerakan Muhammadiyah yang harus mampu membangun kesederhanaan tanpa kehilangan nilai dan orientasinya.

“Dalam konteks pergerakan kita maupun di Tanwir dan Milad ini harus mampu menjadi momentum kita memperkuat kesederhanaan yang punya value, punya tema. Bukan kesederhanaan sebagai populisme,” jelasnya.

Makna kedua adalah keluasan wawasan dan pergerakan. Haedar mengaitkan daun kelor dengan pepatah yang telah dikenal luas, yakni “dunia tak selebar daun kelor”.

Menurut dia, ungkapan tersebut justru dapat menjadi pintu masuk untuk memaknai daun kelor sebagai simbol keluasan.

“Daun kelor memiliki arti keluasan yang bermakna akan keluasan wawasan, keluasan pikiran, keluasan pergaulan, dan keluasan jelajah pergerakan kita,” terang Haedar.

Sementara makna ketiga adalah kesejahteraan dan kemakmuran. Daun kelor memiliki beragam manfaat yang dapat diolah menjadi makanan dan berbagai kebutuhan masyarakat.

Karena itu, kelor dinilai dapat menjadi simbol gerakan yang memberikan manfaat nyata serta mendorong kesejahteraan dan kemakmuran masyarakat. “Pohon kelor adalah pohon keajaiban karena dia adalah lambang kesejahteraan dan memakmurkan,” ucap Haedar.

Lebih jauh, Haedar mengajak seluruh warga Persyarikatan, termasuk jajaran pimpinan Muhammadiyah di berbagai tingkatan, untuk melakukan apa yang disebutnya sebagai “mi’raj pikiran”.

Istilah tersebut menggambarkan proses melampaui pemaknaan simbol secara lahiriah menuju pemahaman yang lebih mendalam terhadap nilai dan gagasan yang terkandung di dalamnya.

Dalam konteks tersebut, Haedar menjelaskan pentingnya memahami simbol melalui pendekatan filsafat makna atau the philosophy of meaning. Dengan demikian, logo Tanwir dan Milad ke-114 tidak berhenti sebagai identitas kegiatan, tetapi menjadi representasi nilai dan semangat gerakan Muhammadiyah.

Peluncuran logo tersebut juga diikuti secara virtual oleh Panitia Penerima Tanwir Muhammadiyah 2026 di Kota Palu.

Di antaranya Ketua Pimpinan Wilayah Muhammadiyah (PWM) Sulawesi Tengah H. Muh. Amin Parakkasi, S.Ag., M.H.I., Ketua Panitia Penerima Tanwir Muhammadiyah 2026 Prof. Dr. H. Rajindra, SE., MM., Sekretaris Panitia Dr. Moh. Rizal Masdul, S.Pd.I., M.Pd., serta sejumlah unsur pimpinan PWM Sulawesi Tengah lainnya.

Kota Palu sendiri telah ditetapkan sebagai tuan rumah Tanwir Muhammadiyah 2026. Pelaksanaan agenda tersebut menjadi momentum penting bagi Muhammadiyah sekaligus menempatkan Sulawesi Tengah sebagai bagian dari perhelatan nasional Persyarikatan Muhammadiyah.

Related Articles

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Stay Connected

0FansSuka
0PengikutMengikuti
0PelangganBerlangganan
- Advertisement -spot_img

Latest Articles