AKTIVI.ID-Universitas Tadulako (Untad) telah meluncurkan program penanggulangan infeksi tuberkulosis, Mahasiswa Jaga dan Sayang Keluarga atau Berani Magaya, sebagai bentuk keterlibatan perguruan tinggi dalam upaya penanggulangan tuberkulosis (TB) di Sulawesi Tengah.
Program yang diinisiasi Fakultas Kesehatan Masyarakat (FKM) Untad itu diluncurkan di Auditorium Untad, Sabtu (22/8/2026), dan dihadiri tiga wakil menteri, yakni Wakil Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Wamendiktisaintek) Prof. Dr. Fauzan, M.Pd., Wakil Menteri Kesehatan (Wamenkes) Dr. Benjamin Paulus Octavianus, Sp.P., serta Wakil Menteri Dalam Negeri (Wamendagri) Komjen Pol. (Purn.) Dr. H. Ahmad Dofiri, S.I.K., M.Si.
Turut hadir Gubernur Sulawesi Tengah, Dr. H. Anwar Hafid, M.Si., Wakil Gubernur Sulawesi Tengah dr. Reny Arniwaty Lamadjido, serta sejumlah pejabat dan unsur perguruan tinggi.
Program Berani Magaya menjadi salah satu bentuk partisipasi perguruan tinggi dalam memberikan dampak langsung kepada masyarakat, khususnya melalui pendampingan pasien TB dan keluarganya.
Program tersebut melibatkan 1.073 mahasiswa dan 155 dosen yang tergabung dalam konsorsium tujuh perguruan tinggi. Selain Untad melalui Fakultas Kesehatan Masyarakat dan Fakultas Kedokteran, konsorsium tersebut juga melibatkan Universitas Alkhairaat (Unisa), Universitas Tompotika (Untika) Luwuk, Universitas Muhammadiyah Palu, Universitas Widya Nusantara, Poltekkes Kemenkes Palu, serta STIK Indonesia Jaya.
Mahasiswa dan dosen dari berbagai perguruan tinggi tersebut akan mengambil peran dalam pendampingan keluarga pasien, memantau kepatuhan pasien dalam mengonsumsi obat, sekaligus melakukan upaya pencegahan untuk memutus mata rantai penularan TB.
Dalam waktu dekat, tiga perguruan tinggi lainnya juga direncanakan bergabung dalam konsorsium tersebut.
Wakil Menteri Kesehatan RI, Benjamin Paulus Octavianus, mengapresiasi peluncuran Program Berani Magaya. Menurutnya, upaya penanggulangan TB merupakan salah satu program prioritas Kementerian Kesehatan, sehingga keterlibatan perguruan tinggi dinilai menjadi langkah yang sejalan dengan program pemerintah.
Ia mengatakan, angka penularan TB di Indonesia masih cukup tinggi. Sulawesi Tengah bahkan disebut berada pada urutan keenam secara nasional dalam jumlah kasus.
Pada 2026, tercatat sebanyak 9.968 kasus TB ditemukan di Sulawesi Tengah. Benjamin menilai, penanganan TB selama ini tidak cukup hanya berfokus pada pengobatan pasien. Upaya pencegahan juga perlu dilakukan terhadap anggota keluarga dan lingkungan terdekat pasien yang berpotensi terpapar.
“Selama ini kita hanya fokus mengobati pasien, namun anggota keluarga di sekitarnya belum secara maksimal dilakukan upaya pencegahan,” ujarnya.
Menurutnya, pendekatan berbasis keluarga menjadi salah satu langkah penting dalam memperkuat upaya penanggulangan TB.
Melalui Program Berani Magaya, mahasiswa dan dosen diharapkan dapat mengambil peran aktif dalam mendampingi keluarga pasien, meningkatkan kepatuhan pengobatan, serta melakukan edukasi dan pencegahan penularan di lingkungan masyarakat.
“Harapannya, melalui Program Berani Magaya ini kita dapat bersama-sama memutus mata rantai penularan TB melalui berbagai program dan pendampingan yang dilakukan,” kata Benjamin.



