18.5 C
New York
Jumat, Agustus 21, 2026

Buy now

spot_img

Mesin Buatan UNTAD Ubah Wajah Produksi Sagu Desa Limboro

AKTIVI.ID-Pengolahan sagu di Desa Limboro, Kecamatan Banawa Tengah, Kabupaten Donggala, kini mendapat sentuhan inovasi teknologi. Tim hibah pengabdian Universitas Tadulako (UNTAD) merampungkan program penguatan kapasitas petani pengolah sagu melalui penerapan teknologi tepat guna, sekaligus mendorong pengembangan produk olahan bernilai ekonomi bagi kelompok PKK setempat.

Program yang berlangsung sejak Mei hingga Agustus 2026 itu tidak hanya menghadirkan mesin pengolah dan penyaring sagu, tetapi juga memberikan pelatihan pengolahan sagu menjadi keripik dengan kemasan komersial yang siap dipasarkan.

Kegiatan bertajuk “Penguatan Kapasitas Petani Pengolah Sagu melalui Inovasi Teknologi Tepat Guna untuk Optimalisasi Produksi Tepung Sagu Berkualitas” tersebut merupakan bagian dari Skema Pemberdayaan Berbasis Masyarakat yang didanai Direktorat Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat, Direktorat Jenderal Riset dan Pengembangan, Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi.

Tim pengabdian diketuai Dr. Evi Sulastri, S.Si., M.Si., Apt., bersama Bakri, Nur Asita, dan Asriana Sultan. Program tersebut juga melibatkan lima mahasiswa dari berbagai program studi.

Ketua tim pengabdian, Dr. Evi Sulastri, mengatakan program tersebut dirancang berdasarkan persoalan yang dihadapi langsung oleh masyarakat Desa Limboro, khususnya petani pengolah sagu dan kelompok PKK.

“Kami tidak hanya memberikan bantuan alat, tetapi merancang teknologi yang benar-benar menyesuaikan kebutuhan dan pola kerja petani di Desa Limboro. Harapannya, teknologi ini dapat terus dimanfaatkan secara mandiri oleh masyarakat,” ujarnya.

Sebelum program dijalankan, tim melakukan peninjauan awal dan menemukan sejumlah kendala yang dihadapi masyarakat. Petani sagu masih terbatas dalam penggunaan peralatan pengolahan, sehingga proses produksi membutuhkan waktu relatif lama dan kualitas tepung yang dihasilkan belum sepenuhnya seragam.

Di sisi lain, kelompok PKK di Desa Limboro belum banyak mengembangkan sagu menjadi produk olahan yang memiliki nilai tambah dan peluang pasar.

Berangkat dari kondisi tersebut, tim pengabdian UNTAD merancang dan merakit mesin pengolah sekaligus penyaring sagu di Bengkel Induk Mesin UNTAD. Mesin tersebut dirancang berdasarkan kebutuhan dan pola kerja petani di lapangan.

“Prinsip teknologi tepat guna adalah menghadirkan solusi yang sesuai dengan kondisi masyarakat. Karena itu, mesin ini tidak sekadar mengadopsi spesifikasi alat yang sudah ada di pasaran, tetapi disesuaikan dengan proses kerja petani,” kata Evi.

Selain penyediaan mesin, tim juga membangun bak penampung di lokasi pengolahan sagu untuk mendukung kelancaran proses produksi.

Penerapan teknologi tersebut memberikan dampak signifikan terhadap kapasitas produksi. Sebelum menggunakan mesin, petani hanya mampu menghasilkan sekitar 30 kilogram tepung sagu per hari. Setelah penerapan teknologi, kapasitas produksi meningkat hingga mencapai 90 kilogram per hari.

Waktu pengolahan juga menjadi lebih efisien. Jika sebelumnya satu kali proses produksi membutuhkan waktu sekitar dua hingga tiga hari per batch, kini proses tersebut dapat diselesaikan dalam satu hari.

“Peningkatan kapasitas ini cukup signifikan. Dari sebelumnya sekitar 30 kilogram per hari, kini produksi dapat mencapai 90 kilogram. Selain lebih cepat, kualitas tepung yang dihasilkan juga lebih bersih dan seragam,” jelasnya.

Selain meningkatkan kapasitas dan mempercepat proses produksi, penggunaan mesin juga mengurangi beban kerja fisik petani. Para petani selanjutnya diberikan pelatihan mengenai pengelolaan dan pemeliharaan aset agar mesin tersebut dapat terus digunakan setelah program berakhir.

Pelatihan mencakup aspek teknis maupun administratif sebagai upaya membangun kemandirian kelompok mitra dalam mengelola fasilitas produksi.

Sementara itu, kelompok PKK Desa Limboro mendapat pelatihan mengolah tepung sagu menjadi keripik sagu. Produk tersebut kemudian dikembangkan dengan kemasan komersial agar memiliki peluang untuk dipasarkan lebih luas.

Menurut Evi, pengembangan produk olahan menjadi bagian penting dalam program tersebut karena potensi sagu tidak seharusnya berhenti sebagai bahan mentah.

“Kami ingin masyarakat melihat bahwa sagu memiliki potensi ekonomi yang lebih besar. Tidak hanya dijual dalam bentuk tepung, tetapi juga dapat diolah menjadi produk pangan yang menarik dan memiliki nilai jual,” tuturnya.

Selain keterampilan produksi, peserta juga memperoleh pembekalan dasar mengenai kewirausahaan sebagai bekal untuk mengembangkan usaha berbasis potensi pangan lokal.

Evi berharap, program tersebut dapat menjadi awal pengembangan usaha berbasis sagu secara berkelanjutan di Desa Limboro.

“Target akhirnya adalah kemandirian masyarakat. Kami berharap teknologi yang diberikan terus dimanfaatkan, keterampilan yang telah diperoleh dapat dikembangkan, dan sagu Limboro mampu menjadi produk unggulan yang memberikan nilai tambah bagi masyarakat,” pungkasnya.

Melalui program tersebut, UNTAD mendorong agar sagu tidak hanya diposisikan sebagai bahan pangan mentah, tetapi dapat dikembangkan menjadi produk olahan yang memiliki nilai tambah dan daya saing.

Penerapan teknologi tepat guna yang disesuaikan dengan kebutuhan masyarakat dinilai mampu meningkatkan kuantitas sekaligus kualitas produksi tepung sagu. Di saat yang sama, pelatihan pengolahan produk turut membuka peluang baru bagi masyarakat, khususnya kelompok perempuan, untuk mengembangkan usaha berbasis potensi lokal.

Dengan meningkatnya kapasitas produksi dan munculnya produk olahan seperti keripik sagu, komoditas sagu Desa Limboro diharapkan dapat naik kelas menjadi produk unggulan yang memperkuat identitas pangan lokal sekaligus membuka peluang peningkatan pendapatan masyarakat.**

Related Articles

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Stay Connected

0FansSuka
0PengikutMengikuti
0PelangganBerlangganan
- Advertisement -spot_img

Latest Articles