24.8 C
New York
Rabu, Agustus 12, 2026

Buy now

spot_img

Garuda Belum Terbang Tinggi

Penulis: Imaduddin Fadhlurrahman / Dosen UIN Alauddin Makassar

Terjungkal di kualifikasi Piala Dunia, mungkin masih dapat dimaklumi. Tersisih pada ajang Piala Asia, tapi mampu menembus babak 16 besar pertama kali, bahkan bisa disebut prestasi luar biasa. Namun, tersingkir pada Piala AFF dan lebih parah lagi di babak grup, rasanya tidak ada pembenaran yang cukup.

Pasalnya, skuad timnas kali ini terbilang salah satu yang paling mewah sepanjang sejarah keikutsertaan di ajang tersebut. Hampir seluruh starting lineup diisi pemain diaspora yang didatangkan berkat proyek naturalisasi.

Harapan setinggi langit menyertai langkah para punggawa Garuda di awal turnamen. Sayangnya harapan itu tidak benar-benar terbang, seiring dengan permainan timnas yang gagal meraih kemenangan di dua pertandingan terakhir secara beruntun.

Sorotan tajam tentu saja menyasar proyek naturalisasi yang digadang-gadang dapat menjadi jalan menuju prestasi gemilang. Kemarahan suporter memuncak justru karena dengan skuad sebagus itu bahkan tak mampu menembus fase grup. Turnamen yang semestinya menjadi batu loncatan paling ringan berubah menjadi batu sandungan.

Tidak ada yang keliru dengan naturalisasi. Di dalam sepak bola, naturalisasi bukan sekadar mendatangkan pemain dengan teknik mengolah bola yang baik. Pada naturalisasi sesungguhnya ada kebudayaan yang coba ditransfer, ada tradisi yang coba diunduh. Mulai dari cara berpikir, kebiasaan berlatih, hingga budaya profesional.

Secara teori, para pemain lokal dapat belajar mengenai budaya sepak bola luar negeri meski tanpa sekalipun merumput di sana. Namun, argumen ini hanya berlaku jika transfer kebudayaan itu benar-benar terjadi, bukan sekadar transfer status kewarganegaraan.

Pemain naturalisasi juga dapat dilihat sebagai katalis untuk membangun karakter dalam dunia olahraga yang telah mapan sehingga setidak-tidaknya hal tersebut mampu membangun ekosistem sepak luar negeri di dalam negeri sendiri. Meski tidak dapat dipungkiri jika berkaca dari beberapa kondisi yang terjadi, beberapa pemain diaspora baru bergabung ketika turnamen tiba. Waktu berlatih bersama skuad menjadi minim. Tak jarang yang berpindah justru bukan kebiasaan melainkan sebatas nama di media sosial.

Sehingga yang sebenarnya menjadi persoalan bukan naturalisasi itu sendiri, melainkan bagaimana cara memaknainya. Terhitung sejak program ini diluncurkan pada 2020, lebih dari 20 pemain telah bergabung untuk membela timnas sepak bola Indonesia. Jumlah tersebut sudah cukup untuk membuat kesebelasan sepak bola sendiri.

Hal ini tentu saja menjadi indikasi bagaimana pemerintah begitu serius untuk memoles Timnas Indonesia menjadi tim yang kompetitif. Namun, skuad yang mewah terlihat di atas secarik kertas tidak menjamin apa pun ketika berada di lapangan hijau. Kemajuan yang selama ini kita rayakan bisa jadi hanya berupa kemasan semata, bukan pada isinya.

Di sinilah letak pertanyaan seriusnya. Mengapa ilusi semacam ini seperti lingkaran setan yang tidak pernah putus? Jalan pintas seolah terasa menggoda karena ia menjanjikan hasil tanpa harus menunggu. Alih-alih membenahi pembinaan usia dini, memperbaiki kompetisi domestik, atau membangun ekosistem liga yang sehat. Sebab tidak bisa dipungkiri, kerja-kerja semacam itu merupakan kerja panjang tanpa jaminan sorotan media.

Federasi seperti sedang memilih jalan yang lebih instan dengan mendatangkan pemain keturunan. Persoalannya, keunggulan yang dibeli bukan datang dari kebiasaan bertanding, dari sistem yang teruji, maupun dari budaya sepak bola yang mengakar. Ia rapuh persis ketika tekanan sesungguhnya dan fase grup Piala AFF menjadi pembuktiannya.

Kegagalan pada Piala AFF kali ini terasa lebih pahit dan sulit dimaafkan dibanding edisi sebelumnya karena tidak lagi bisa bersembunyi pada alasan klasik. Stok pemain yang mungkin sering menjadi kambing hitam tidak dapat lagi menjadi alasan. Persiapan pun terhitung lebih matang disertai dukungan PSSI yang jauh lebih besar. Namun, hasil tetap sama, bahkan lebih menyakitkan karena datang dengan skuad “lengkap” yang pulang dengan kepala tertunduk.

Apakah mungkin ini juga ada korelasinya dengan karakter kita sebagai orang Indonesia yang gemar menempuh jalan pintas? Mungkin jawabannya dapat kita petik dari perjalanan Timnas Maroko. Kini, sepak bola mereka berada di level yang belum pernah mereka sentuh sebelumnya.

Maroko bukan lagi sekadar kuda hitam dalam persaingan sepak bola dunia, tetapi turut diperhitungkan sebagai salah satu tim papan atas dunia. Dalam ranking Fifa terbaru, Maroko bahkan menempati posisi 6 dunia.

Keberhasilan Singa Atlas meraih prestasi dalam dunia sepak bola menunjukkan sebuah proses yang tidak instan. Kebangkitan sepak bola Maroko berawal dari proyek akbar yang diinisiasi oleh Presiden Federasi Sepak Bola Kerajaan Maroko (FRMF) Fouzi Lekjaa.

Pasalnya, semenjak tahun 2014, Presiden Maroko yang juga seorang teknokrat melakukan rekonstruksi sepakbola Maroko dengan memprogram kembali pembinaan usia dini di seluruh aspek hingga menyentuh klub-klub di seluruh Maroko.

Lekjaa menyusun kembali bangunan timnas dan klub-klub dengan mulai memperbaiki infrastruktur olahraga demi menunjang program pembinaan dan latihan untuk para pemain. Hal tersebut sebenarnya sejalan dengan visi besar yang pernah dilakukan oleh Raja Mohammed VI yang membangun akademi sepak bola pada 2009.

Langkah tersebut tak lupa dibarengi dengan menyempurnakan stadion menjadi lebih megah agar memenuhi standar FIFA. Tak heran, hal tersebut berdampak dengan terpilihnya Maroko menjadi salah satu tuan rumah yang akan menggelar Piala Dunia 2030 mendatang.

Barulah setelah bangunan pondasinya tersusun kokoh dan rapi, federasi Maroko mulai memburu diaspora seperti mencari pemain keturunan Maroko dari empat negara Eropa seperti Spanyol, Belanda, Perancis, dan Belgia.

Sebaliknya, Indonesia seakan menempuh jalan terbalik. Naturalisasi dulu, pembinaan kemudian. Atau mungkin jalan di tempat. Padahal dengan ratusan juta pemuda yang tersebar dari seluruh penjuru Indonesia dan tersebar di ribuan pulau, rasa-rasanya mustahil apabila bangsa ini benar-benar kekurangan bakat.

Yang mungkin lebih tepat dipertanyakan adalah kemauan dan keberanian untuk melangkah dan menyusuri jalan yang lebih panjang dan sunyi dari sorotan. Bukan melulu memilih jalan instan yang selalui dipenuhi gemerlap perhatian.

Padahal jika skenarionya berjalan mulus, gelar juara AFF dapat menjadi kado terindah untuk kemerdekaan Indonesia ke-81. Nyatanya tidak semua skenario selalu berjalan mulus. Barangkali kado tahun ini berupa refleksi bahwa kado sesungguhnya bukan trofi yang berkilau, melainkan keberanian untuk membangun timnas dari akar, bukan sekadar mempercantik pucuknya dengan naturalisasi, tetapi turut memajukan ekosistem mulai dari pembinaan hingga liga yang kompetitif.**

Related Articles

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Stay Connected

0FansSuka
0PengikutMengikuti
0PelangganBerlangganan
- Advertisement -spot_img

Latest Articles