13.5 C
New York
Senin, Mei 25, 2026

Buy now

spot_img

Pengajian Bulanan Unismuh Palu Kupas Manhaj Tarjih Muhammadiyah

AKTIVI.ID-Universitas Muhammadiyah (Unismuh) Palu melalui Lembaga Pembinaan dan Pengembangan Al-Islam dan Kemuhammadiyahan (LP2AIK) kembali menggelar pengajian bulanan dengan mengangkat tema “Manhaj Tarjih dan Ijtihad Kontemporer dalam Muhammadiyah”.

Kegiatan yang berlangsung di Masjid Ulil Albab Unismuh Palu itu dihadiri mahasiswa, staf, dosen, ketua lembaga, dekan, rektor, serta pejabat di lingkungan Unismuh Palu. Pengajian ini menghadirkan Ketua Pimpinan Wilayah Muhammadiyah (PWM) Sulawesi Tengah, HM. Amin Parakkasi, S.Ag., M.Hi yang juga menjabat Ketua Pembina Harian Unismuh Palu, sebagai narasumber.

Rektor Unismuh Palu, Prof. Dr. H. Rajindra, SE., MM saat membuka kegiatan menyampaikan bahwa pengajian tersebut rutin dilaksanakan dua kali dalam sebulan dengan menghadirkan narasumber yang kompeten sesuai tema yang dibahas.

Menurutnya, kegiatan tersebut memiliki keterkaitan erat dengan mata kuliah Al-Islam dan Kemuhammadiyahan (AIK) yang wajib ditempuh seluruh mahasiswa di Unismuh Palu. Keterbatasan waktu pembelajaran di kelas, dapat dilengkapi melalui pengajian rutin guna menambah wawasan keislaman mahasiswa.

“Selain dosen dan staf, ini juga wajib bagi mahasiswa karena kaitannya dengan mata kuliah AIK,” ujar Prof Rajindra, Sabtu (23/5/2026).

Sementara itu, Amin Parakkasi dalam materinya menguraikan kedudukan Majelis Tarjih dan Tajdid Muhammadiyah sebagai lembaga yang bertugas melakukan ijtihad atau kajian mendalam dalam menetapkan pandangan keagamaan, fatwa, dan tuntunan hidup umat Islam berdasarkan Al-Qur’an dan Sunnah.

Amin tidak menampik adanya persepsi publik yang melihat Muhammadiyah berada di antara dua kutub yang berbeda dalam praktik beragama. Di satu sisi, persyarikatan ini dinilai sangat tegas dalam urusan ibadah mahdhah, namun di sisi lain dinilai sangat terbuka dan fleksibel dalam urusan muamalah (sosial kemasyarakatan).

“Dengan ini Muhammadiyah dikenal berada di dua kutub yang berlawanan, ada yang menganggap ekstrem ada juga yang mengenal liberal,” ungkap Amin Parakkasi.

Untuk meluruskan pandangan tersebut, Amin memaparkan lima patron atau landasan utama yang dipegang teguh oleh Muhammadiyah dalam memahami agama. Pertama, agama Islam yang bersumber dari Al-Qur’an dan hadis sahih. Kedua, urusan dunia, yakni perkara yang tidak berkaitan langsung dengan tugas kerasulan, seperti keterampilan dan profesi.

Ketiga, ibadah yang dimaknai sebagai upaya mendekatkan diri kepada Allah dengan menjalankan perintah dan menjauhi larangan-Nya. Ia menjelaskan, ibadah terbagi menjadi dua, yakni ibadah umum dan ibadah khusus.

Ibadah umum mencakup segala aktivitas yang dibolehkan selama tidak terdapat dalil yang melarang, seperti bisnis dan belajar. Sedangkan ibadah khusus merupakan ibadah yang tata cara dan perinciannya telah ditetapkan Allah dan dicontohkan Nabi Muhammad SAW, sehingga tidak boleh dimodifikasi tanpa dalil.

Keempat, sabilillah, yakni segala amalan yang bertujuan mencari ridha Allah, termasuk mengelola organisasi dan amal usaha. Kelima, qiyas, yaitu metode ijtihad terhadap persoalan yang tidak berkaitan dengan ibadah mahdhah dan tidak ditemukan dalil secara langsung.

“Prinsip inilah yang dipegang Muhammadiyah dalam memahami agama,” ujarnya.

Di akhir materinya, Amin Parakkasi berpesan agar seluruh civitas akademika Unismuh Palu dapat menyikapi perbedaan pandangan dan pemahaman keagamaan di tengah masyarakat dengan bijak. Menurutnya, perbedaan pemikiran tidak boleh dijadikan alasan untuk saling mencaci atau menyalahkan satu sama lain.*

Related Articles

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Stay Connected

0FansSuka
0PengikutMengikuti
0PelangganBerlangganan
- Advertisement -spot_img

Latest Articles