Penulis: Dr. Rukhayati, SE., MM / Akademisi Universitas Muhammadiyah Palu
Kota Palu, Sulawesi Tengah, saat ini berada pada tahap pembangunan yang strategis karena struktur demografinya didominasi oleh penduduk usia produktif, yaitu warga berusia 15 – 64 tahun, yang jumlahnya lebih banyak dibanding kelompok usia tidak produktif. Fenomena ini disebut bonus demografi, kondisi ketika beban ketergantungan (rasio penduduk usia nonproduktif terhadap usia produktif) berada di bawah ambang kritis sekitar 50 persen. Situasi ini membuka peluang untuk percepatan pembangunan lokal, peningkatan kualitas hidup masyarakat, dan penguatan daya saing di tingkat regional.
Menurut BPS Sulawesi Tengah (2023), penduduk usia produktif di Kota Palu mencapai sekitar 63 persen dari total populasi. Kondisi ini memberi Palu kesempatan besar untuk meningkatkan produktivitas, mendorong inovasi, dan mempercepat pertumbuhan ekonomi yang inklusif. Namun, bonus demografi bukanlah jaminan otomatis; ia merupakan potensi yang perlu dikelola dengan baik agar benar-benar memberikan manfaat nyata bagi masyarakat dan pembangunan daerah.
Pengalaman di kota-kota lain menunjukkan bahwa bonus demografi tanpa peningkatan kualitas SDM dan arah kebijakan yang jelas dapat menimbulkan tantangan. Risiko muncul dalam bentuk pengangguran terdidik, ketidaksesuaian keterampilan dengan kebutuhan pasar lokal, serta rendahnya produktivitas tenaga kerja. Peningkatan partisipasi angkatan kerja muda dan penguasaan keterampilan tinggi akan semakin memperkuat potensi demografi Palu
Di sinilah kepemimpinan visioner berperan penting. Pemimpin visioner di tingkat daerah, baik di pemerintahan, sektor bisnis, pendidikan, maupun organisasi sosial, tidak hanya fokus pada pencapaian jangka pendek, tetapi juga mampu memandang jauh ke depan, yakni menyiapkan sistem yang memperkuat kapasitas SDM, merancang kebijakan yang adaptif terhadap perubahan, serta memastikan generasi produktif berkembang menjadi individu yang kompeten, kreatif, dan berkarakter.
Sebagai akademisi di bidang manajemen sumber daya manusia, saya menilai bahwa tantangan terbesar di Kota Palu bukan sekadar jumlah tenaga kerja muda, tetapi kualitas kepemimpinan yang membimbing mereka. Perguruan tinggi lokal, melalui pendidikan manajemen dan program pengembangan kepemimpinan, memiliki peran strategis dalam menyiapkan calon pemimpin masa depan yang mampu berpikir strategis, membuat keputusan tepat, dan bertindak etis.
Selain pendidikan, kebijakan dan praktik organisasi di level lokal juga sangat penting. Pemerintah kota, perusahaan, dan lembaga masyarakat perlu menciptakan lingkungan yang mendorong kreativitas, inovasi, dan tanggung jawab, sehingga generasi produktif dapat berkembang secara optimal. Kepemimpinan visioner di tingkat lokal menjadi faktor pengganda yang memperkuat nilai sosial dan ekonomi dari bonus demografi di Kota Palu.
Perlu diingat bahwa bonus demografi bersifat sementara. Setelah sekitar 2040, proporsi penduduk usia produktif diperkirakan akan menurun, sehingga momentum ini harus dimanfaatkan secara maksimal sebelum jendela peluang tertutup.
Dengan demikian, semua pihak, baik pendidikan, pemerintah daerah, dunia usaha, dan masyarakat, harus bersinergi dalam membangun kepemimpinan yang visioner dan berkualitas. Mahasiswa dan generasi muda Kota Palu perlu dibekali tidak hanya dengan pengetahuan, tetapi juga kemampuan berpikir strategis, mengambil keputusan tepat, dan bertindak secara etis. Pendekatan ini akan menjadikan bonus demografi sebagai kesempatan emas untuk mempercepat pembangunan lokal, meningkatkan kesejahteraan, dan meninggalkan warisan positif bagi generasi mendatang.
Kesimpulan: Bonus demografi adalah peluang besar yang hanya akan memberikan manfaat maksimal jika dikelola melalui kepemimpinan visioner, pendidikan SDM yang tepat, dan budaya kepemimpinan yang kuat di tingkat lokal. Tanpa persiapan yang matang, peluang ini bisa menjadi beban yang merugikan. Sebaliknya, dengan strategi yang tepat, Kota Palu dapat memanfaatkan momentum demografis untuk melahirkan generasi produktif, kreatif, dan pemimpin masa depan yang membawa daerah menuju kemajuan.
Catatan: Artikel ini disusun sebagai analisis umum dan aspiratif mengenai bonus demografi dan kepemimpinan visioner, bukan sebagai evaluasi kinerja pemerintah atau pihak tertentu.***
Catatan Sumber:
- BPS Sulawesi Tengah, “Statistik Daerah Kota Palu 2023,” Badan Pusat Statistik Provinsi Sulawesi Tengah, 2023.
- UNFPA Indonesia, “Demographic Dividend in Indonesia: Opportunities and Challenges,” 2021.
- World Bank, “Indonesia Economic Prospects: Managing the Demographic Bonus,” 2022.



